Beranda Ide Filsafat Kesadaran dan Sikap Atheis

Kesadaran dan Sikap Atheis

Devin Nodestyo

405
0
BERBAGI
sumber gambar: http://baginda-bintang.blogspot.co.id
 “Apa maksudnya bahwa eksistensi mendahului esensi ini? Ini berarti: bahwa manusia terlebih dahulu bereksistensi, berjumpa, berkiprah di dunia dan baru sesudah itu mendefinisikan dirinya” (Sartre dlm: Kunzmann, 201)
Dari pemikiran dan aspek Biografis Sartre

Sartre  adalah satu dari beberapa filsuf besar di abad 20. Selain seorang sastrawan, filsuf, seorang humanis, ateis, komunis, dan moralis, ia juga seorang pejuang kemerdekaan—melawan kedudukan Jerman di Perancis. Sepak terjangnya membuat decak kagum bagi semua orang di masa itu.

Saat itu Perancis sedang dilanda krisis mental yang parah karena peperangan yang  membuat  keterpurukan di segala lini. Sikap skeptis dan malafide (istilah yang dipakai Satre untuk mengungkapkan manusia sangat bergantung pada keadaan) yang telah mengakar di benak warga Perancis membuat negeri itu sulit untuk bangkit.

Namun, di tengah kondisi itu, seorang filsuf dari kota Paris itu yang melalui pemikiran-pemikirannya yang provokatif  dan kontroversial menghembuskan angin segar bagi Perancis.

Sartre seperti mendapat energi baru untuk terus menyeru kemerdekaan individu, bahwa setiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih, setiap orang punya daya untuk menentukan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain bahkan Tuhan.

Pada saat itu pernyataan-pernyataan Sartre telah mengangkat martabat manusia ke tempat yang paling tingga di tengah keterpurukan mental yang melanda Perancis bahkan di negara lainnya.

Bagi Sartre, hidup manusia adalah “keterlemparan” (Geworfenheit), sebuah paham yang diambil dari filsafat Heidegger. Keterlemparan tersebut menerangkan bahwa manusia ada di dunia begitu saja, tanpa diminta dan sepengetahuan manusia itu sendiri.

Dia “ada” dengan sendirinya. Dengan begitu, manusia kemudian harus menentukan dirinya sendiri secara “bebas”. Dasar pemikiran Sartre tak terlepas dari keadan-keadaan atau situasi-situasi tertentu dan peristiwa-peristiwa sejarah serta kondisi sosial di masa hidupnya.

Ajaran  resmi gereja yang dirasakan Sartre telah menampilkan figur Tuhan yang suka menghukum, Maha Tahu, dan ada di mana-mana, sehingga sanggup melongok masuk ke dalam relung-relung perasaan kebersalahannya.

Pengalaman akan Allah semacam ini mematahkan kepercayaan Sartre. Baginya para polisi yang maha tahu dari Tuhan yang Maha Besar ini tidak lebih dan tidak kurang dari “kekurang ajaran yang keterlaluan”.[1] Dengan gambaran Tuhan yang demikian itu, kemudian Sartre muda dapat dengan mudah menolak Tuhan. Tuhan membuat dirinya tidak bebas.

Dalam salah satu tulisannya, ia mengungkapkan, jika Tuhan selalu mencampuri setiap urusan dan bahkan dapat mengetahui keberadaan sekaligus kejadian yang sedang berlangsung, maka manusia tidak bebas. Jika manusia tidak bebas, maka, ia tidak dapat menentukan esensinya sendiri.

Suatu pagi, Sartre menunggu beberapa temannya di suatu tempat untuk berangkat ke sekolah bersama. Namun, mereka datang sangat telat sehingga ia kesal dan tak dapat menemukan sesuatu yang dapat menghiburnya.

Kemudian ia memikirkan Tuhan, namun, katanya, Tuhan pun pergi entah ke mana, lenyap begitu saja tanpa keterangan, Dia tidak eksis. Lalu atas dasar itu Sartre menyimpulkan bahwa perkara ini sudah selesai, Tuhan tidak eksis. Dengan gambaran tersebut, secara filosofis, Sartre menolak Tuhan berdasarkan pemahamannya mengenai kesadaran dan kebeasan total.

Kodrat dan Kesadaran

Secara filosofis, Sartre menolak Allah berdasarkan pahamnya mengenai kesadaran dan konsepsinya mengenai kebebasan total.

Dalam bukunya, Being and Nothingness (1948), membedakan dua cara ada dalam di dunia. Yang pertama adalah etre-pour-soi  (being-for-itself, ada-bagi-dirinya) dan yang kedua adalah etre-en-soi (being-in-itsel, ada-dalam-dirinya). Etre-pour-soi, menunjuk pada kesadaran atau manusia. Sedangkan etre-en-soi, menunjuk pada benda.[2]

Soal kesadaran itu sendiri, Sartre menolak teori atau pengetahuan yang menyamakan kesadaran dengan benda seperti yang dibenarkan oleh ilmu psikologis dan lainnya.

Ia juga menolak Freud yang menyatakan bahwa manusia bersikap karena dorongan alam bawah sadar yang artinya manusia menjalani kehidupan secara tidak sadar. Menurutnya, kesadaran bukanlah benda, melainkan sesuatu yang abstrak dan kesadaran bersifat intensional.

Selain bersifat intensional, kesadaran memiliki karakter negativitas yaitu kemampuan untuk “menidak”. Dengan kemampuan menidak itulah manusia dapat membuat pilihan sendiri atau dapat melarikan diri dari pilihan-pilihan yang ada dalam situasi dan kondisi tertentu.

Dengan adanya kemampuan ‘menidak’ tersebut, juga bagi Sartre merupakan argumen untuk menolak Kodrat manusia.  Ia menolak kodrat karena kodrat adalah suatu ketentuan yang dibuat oleh Tuhan untuk manusia yang sudah ada dari sebelum diciptakanya.

Itu artinya Tuhan sejak semula telah merencanakan apa-apa yang terjadi kepada ciptaannya dan juga Tuhan juga telah menentukan esensi ciptaannya. Esensi manusia sudah ditentukan Tuhan. Dengan begitu, manusia tidak akan pernah bisa merbuah dirinya ke taraf yang lebih tinggi daripada kodrat yang sudah ditentukan Tuhan.

Menurut cara pandang ini, esensi yang ideal mendahului eksistensi. Dengan adanya kodrat bagi manusia, maka kodrat itu akan menentukan mnusia itu sendiri dan akibatnya manusia tak lain adalah hasil perkembangan yang secara subtansial sudah ada sebelumnya. Pada posisi ini, manusia tidak berbeda dengan pohon atau benda mati lainnya.

Cara berpikir seperti di atas, menurut Sartre, terbalik, sebab katanya: bukan esensi mendahului eksistensi, melainkan eksistensi mendahului esesnsi.

Sartre: “Apa maksudnya bahwa eksistensi mendahului esensi ini? Ini berarti: bahwa manusia terlebih dahulu bereksistensi, berjumpa, berkiprah di dunia dan baru sesudah itu mendefinisikan dirinya” (Sartre dlm: Kunzmann, 201). Secara praktis, ini berarti bahwa manusia harus terlebih dulu merealisasikan diri dan segenap kekuatan yang ada pada dirinya, menjadi “eksis” dan menegasi terus menerus keadaannya kini; lalu dari sini barulah ia akan memperoleh apa adanya dia, esensinya.

Adapun kemampuan hakiki dalam perealisasian diri dan penegasian terus menerus keadaan kini dan di sini adalah kebebasan. “ Kebebasan adalah penidakan terhadap en-soi lewat perancangan diri” ( Sartre dalam: Kunzmann, 201). Jadi, baik eksistensi maupun esensi di dalam pandangan Sartre ditetntukan dari pelaksanaan kebebasan.[3]

Di sinilah letak masalah penerimaan Tuhan. Dengan adanya Kodrat sudah otomatis adanya Tuhan. Jika Tuhan ada maka otomatis kodrat pun ada. Tuhan dan kodrat mesti diyakini secara bersamaan. Dengan demikian Tuhan dan kodrat tidak bisa dipisahkan.

Jika Tuhan ada maka manusia tidak bebas dan dengan arti lain menusia telah dicetak oleh Tuhan dengan kodratnya. Manusia tidak bebas, dalam arti ia tidak secara total menentukan dirinya sendiri.

Seandainya Tuhan ada,  dengan segala sifatnya, yang Maha tahu, Maha Kuasa, itu artinya manusia menjadi objek bagi Tuhan dan siapa manusia itu sendiri sudah ditentukan satu kali untuk selamanya. Kebebasan akan dicabut dari manusia. Tuhan punya kuasa penuh terhadap manusia dan akibatnya manusia hanya menerima kodratnya, ia akan pasrah dengan keadaan dan tak akan bisa merubah situasi dan kondisi seperti itu.

Pada pemikiran Sartre ini, seperti dalam novel The Brothers Karamazow karya Dostoyevski: “Kalau tidak ada Allah, semuanya boleh.” Hal ini dirumuskan secara tegas dalam doktrin ateisme Sartre: karena manusia bebasa, maka Allah tidak ada.

Kembali pada kesadaran, manusia adalah makhluk yang terus menerus melakukan tindakan menidak. Kemampuan menidak ini adalah ciri dari kesadaran. Dengan kemampuan menidak inilah, dengan kesadarannya maka, manusia juga dapat menolak adanya Tuhan. Menolak Tuhan itu berarti juga menolak Kodrat. Jika tidak ada Tuhan dan kodrat manusia dapat merubah taraf hidupnya ke tingkat yagn lebih tinggi dengan kuasa atas dirinya secara total.

Lalu bagaimana kehidupan manusia tanpa adanya Tuhan dan apa konsekuensi praktisnya? Dengan pertanyaan tersebut, sartre memberi jawaban bahwa jika kehidupan manusia tanpa adanya Tuhan, maka, kehidupan manusia itu akan menjadi sulit, ia tak memiliki pegangan atau tumpuan terakhir. Manusia akan selalu sendirian dan harus bertanggungjawab pada dirinya dan orang lain.

Sartre sendiri mengakui betapa “penuh susah payahnya” hidup orang yang memilih ateis. Ibarat orang bepergian tanpa tiket kendaraan. Sikap ateis akan mengantarkan kita pada kesepian, tidak nyaman dan dipandang dengan tatapan yang bahkan merendahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertimbangan Sartre memilih ateis adalah berdasarkan pengalaman dan perenungannya secara mendalam. Memang penyataan-pernyataannya telah membuat kontroversi dan secara radikal menggugat adanya Tuhan tetapi di sisi lain ia dengan terang-terangan mengangkat derajat manusia setinggi-tingginya dengan subjektivitasnya.

Walaupun sikap Sartre selalu tidak konsisten dengan pendiriannya dalam hal politik dan pergerakan, ia tetap menjadi orang yang ditunggu-tunggu pernyataanya dari sudut pandangnya.

Tentu kita boleh tidak percaya sepenuhnya terhadap Sartre, tetapi kita harus dapat melihat secara telanjang bahwa kesadaran dapat menegasi sebuah pilihan bahkan untuk memilih tidak percaya dengan kodrat.

Dari pengalaman Sartre ini, kita juga dapat belajar betapa pentingnya sensibilitas dalam mengkomunikasikan gambaran mengenai Tuhan. Jika sifat maha adil dan Maha Tahu Tuhan ditekankan begitu rupa, sehingga Ia tampil sebagai hakim penghukum, yang mampu memasuki ruang pribadi manusia, maka bukan tidak mungkin gambaran ini akan membekas di hati sanubari anak dan menimbulkan resistensi kelak jika ia dewasa.

Manusia memilliki kebebasan atas dirinya untuk melakukan sesuatu. Ateis adalah sebuah pilihan dan sebuah pilihan dan seperti yang dikatakan Sartre, kita mesti bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri.

Jika kita memilih ateis, maka kita mesti menerima dan menjalani konsekuensi praktis dari ateis. Begitu juga sebaliknya, jijka kita memilih untuk yakin adanya Tuhan, maka kita mesti menerima dan menjalankan konsekuesi paraktis dari segala sesuatu yang berasal dari Tuhan, jadilah hamba Tuhan yang benar-benar taat. Ateis dan menerima Tuhan, keduanya adalah pilihan yang harus diterima konsekuensinya.

[1]  A. Setyo Wibowo dan Majalah Driyarkara, Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre,

[2]  Zainal Abidin, Kesadaran, Kebebasan dan Otentisitas Manusia. Berfilsafat bersama Jean Paul Sartre.

[3]  Ibid

*Penulis adalah penggiat kebudayaan Komunitas Berkat Yakin (Kober). Beberapa karya tulisnya seperti, cerpen dan esai kerap dimuat di media cetak. Baru-baru ini penulis meluncurkan Novel pertamanya berjudul ‘John The Bandits’.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here