Beranda Ide Kerja, Kerja, Kerja ! Capek dehhh

Kerja, Kerja, Kerja ! Capek dehhh

225
0
BERBAGI

Pekerjaan adalah sarana manusia untuk menciptakan diri sendiri, pekerjaan adalah tindakan paling dasar dalam hidup manusia, manusia membuat dirinya menjadi nyata dengan pekerjaan

— Karl Marx —

Sudah empat tahun rezim Jokowi-JK menjalankan roda pemerintahan, sudah tentu pro dan kontra tak dapat dihindarkan. Ada yang mengkritik habis-habisan ada pula yang mendukung habis-habisan, yang terkadang diluar nalar. Bagaimana tidak, terdapat kelompok yang melihat segala sesuatu yang dilakukan Jokowi-JK, apapun dan dimanapun adalah kesalahan, dan ada pula yang sebaliknya, membela mati-matian segala sesuatu yang dilakukan Jokowi-JK bahkan bila terdapat kekeliruan didalamnya.

Ini jelas ditunjukan oleh para anggota dewan yang berada di senayan, dua kelompok yang bersebrangan (oposisi) dari koalisi merah putih dan koalisi Indonesia hebat adalah pelaku utamanya. Menurut pendapat penulis sebagai seorang warga negara Indonesia, apabila dua narasi besar tentang roda pemerintahan dimainkan oleh dua kelompok ini saja, maka jelas ini akan membuat masyarakat keblinger.

Sederhananya sebagai seorang yang memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi, maka sikap yang harus diambil adalah “katakan benar jika itu benar katakan salah jika itu salah, dukung apabila itu berdampak pada kemaslahatan rakyat dan tolak apabila menyengsarakan rakyat”. Ini sesuai dengan kaidah fiqiyah yang hidup dan berkembang di dunia pesantren yakni Tasharruful imam ala-r-ra’iyyah manuthun bil-mashlahah (kebijakan seorang penguasa kepada rakyatnya ditujukan untuk memenuhi kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat).

Walaupun kadang kala terdapat kelompok mahasiswa yang menolak kebijakan rezim Jokowi-JK langsung dicap sebagai kelompok yang anti rezim Jokowi-JK dan apabila mendukung kebijakan Jokowi-JK dibilang antek-antek Jokowi-JK, maka tepatlah zaman ini diberi nama zaman keblinger.

Namun penulis mencoba menghindar dari persoalan politik Indonesia pada tulisan kali ini, walaupun sulit tentunya. Maklum saja sudah mendekati ajang lima tahunan, segala sesuatu yang menyinggung nama para politisi dikaitkan dengan dukungan politik, sangat tendensius segala sesuatu dibuatnya, sungguh menjijikkan! Namun penulis tidak akan khawatir, karena penulis sendiri bukan dari kalangan politisi apalagi kiyai.

New hope

Pada pidato pelantikan presiden RI di Jakarta pada tanggal 20 Oktober 2015 Jokowi menyampaikan “Lima tahun ke depan menjadi momentum pertaruhan kita sebagai bangsa merdeka. Oleh sebab itu, kerja, kerja, dan kerja adalah yang utama.” Dan pada tahun 2014 majalah Times menampilkan wajah Jokowi sebagai headline-nya dengan tajuk “New Hope” (harapan baru).

Benarkah harapan baru dapat terwujud dengan slogan kerja, kerja dan kerja? Atau malah sebaliknya, kerja, kerja dan kerja hanya menghasilkan sebuah slogan baru yakni ‘capek deh’.

Meminjam istilah Karl Marx apabila kerja ini yang terjadi maka kerja, kerja dan kerja hanya akan membuat manusia mengalami keterasingan. Maka sudah sepatutnya kerja, kerja, dan kerja menggunakan konsep kerja yang digagas oleh Karl Marx, agar apa? Agar konsep kerja yang diwacanakan pada rakyat tidak macet apalagi sampai pada ihwal keterasingan.

Karl Marx yang lahir pada tahun 1818 di kota Trier, di perbatasan barat Jerman yang pada saat itu termasuk negara Prussia, Marx yang dikenal sebagai seorang filsuf, sosiolog, pakar ekonomi dan politik di zamannya telah menelurkan beberapa karya seperti manifesto komunis yang ditulis bersama sahabatnya Friedrich Engels, dan karya fenomenalnya tentang ramalan kehancuran kapitalisme yang terbit pertama kalinya pada tahun 1867 yakni  das kapital. Mari kita telisik bagaimana konsep kerja menurut Marx.

Menurut Marx, pekerjaan adalah sarana manusia untuk menciptakan diri sendiri, pekerjaan adalah tindakan paling dasar dalam hidup manusia, manusia membuat dirinya menjadi nyata dengan pekerjaan. Dan celakanya lewat pekerjaan pulalah segala keterasingan manusia selama ini bermula. Sebelum kita memasuki gagasan Karl Marx tentang kerja mari kita bertanya pada diri kita. Selama ini apa yang terlintas di kepala kita ketika mendengar kata kerja, mungkin sejenak kita akan berpikir dan mengasosiasikan kerja pada PNS, uang, kaya, mapan dan sukses. Apakah ini keliru? Mari kita melompat ke pemikiran Marx selanjutnya tentang kerja.

Pekerjaan, kegiatan khas manusia.

Kenapa manusia harus bekerja? Padahal binatang tidak? Pertama, binatang langsung dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dari alam, sedangkan manusia tidak. Alam sendiri belum sesuai dengan kebutuhan manusia, oleh sebab itu manusia harus mengubah alam. Karena makanan, pakaian, dan tempat tinggal tidak begitu saja dapat ditemukan manusia di alam. Namun, bukankah binatang juga membuat tempat tinggal? atau sarang lebih tepatnya. Lantas apa yang membedakan manusia dan binatang secara mendasar dalam pekerjaan?

Manusia adalah makhluk ganda yang aneh, di satu sisi manusia adalah “makhluk alami” seperti binatang, yang membutuhkan alam untuk hidup. Di satu sisi manusia berhadapan dengan alam sebagai sesuatu yang asing, manusia harus menyesuaikan alam terlebih dahulu untuk menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhannya. Kedua, binatang hanya memproduksi apa yang dibutuhkannya secara langsung bagi dirinya atau keturunannya, sedangkan manusia tidak.

Manusia berproduksi secara universal dan bebas dari kebutuhan fisik. Bebas, yakni manusia dapat bekerja meskipun tidak merasakan kebutuhan langsung. Universal, karena manusia dapat menggunakan pelbagai cara untuk tujuan yang sama. Contohnya, manusia dapat membuat rumah dari kayu, batu, rumput, tanah, sedangkan binatang tidak. Dan di lain pihak manusia dapat menghadapi alam tidak hanya dalam kerangka salah satu kebutuhan saja. Misalkan, manusia dapat menggunakan kayu untuk berbagai kebutuhan, sebuah kayu dapat dipakai manusia sebagai kayu bakar, kaki kursi bahkan alat pukul, ingat itu adalah sebuah kayu yang sama.

Dengan demikian, pekerjaan memang menjadi hal yang mendasar untuk membedakan manusia dengan binatang serta untuk menunjukkan hakikatnya, yang bebas dan universal.

Lewat pekerjaan manusia menciptakan dirinya sendiri, dalam sebuah kasus misalnya seorang pengukir yang mengambil sebatang kayu untuk dijadikan karya seni, perlahan ia mulai menguliti, dan mengukir sampai sempurna. Dan apa yang ada di kepala sang pengukir ia coba untuk diterapkan pada sebatang kayu tadi, secara tekun dan teliti ia mengukir sebatang kayu untuk dijadikan karya seni, sebuah patung misalnya. Dan ketika patung ini selesai dikerjakan, dan pada saat itu juga sang pengukir memiliki kepastian tentang dirinya, ia tidak hanya bermimpi menjadi seorang seniman tetapi sekarang ia memang seniman.

Manusia mendapat kepastian tentang bakat dan kemampuannya, ia menjadi nyata. Maka pekerjaan menjadi cerminan pada diri manusia yang menghasilkan rasa bangga. Maka, sudahkah kita merasa bangga dengan pekerjaan yang kita lakukan selama ini? Apabila tidak! maka kata yang tepat adalah, capek deh…

Sudah semestinya pekerjaan menjadi sarana realisasi diri, maka sudah semestinya menggembirakan dan memberikan kepuasan. Apabila selama ini kita tidak merasakan kebahagiaan apalagi kepuasan, mari kita cek ulang apakah selama ini pekerjaan yang kita lakukan sudah bersifat bebas dan universal atau jangan-jangan hanya sebagai syarat untuk bisa hidup semata, maka Marx menyebut hal ini sebagai keterasingan.

Keterasingan menurut Marx. Pertama, manusia terasing terhadap dirinya sendiri. Dalam keterasingan ini manusia tidak lagi merasa bangga dari hasil pekerjaannya, terlebih lagi apabila si manusia bekerja di sebuah perusahaan atau pabrik yang dirinya hanya membuat bagian kecil dari suatu produk, yang selama melakukan kegiatan produksi ia tak pernah melihat hasil produksinya secara utuh. Kemudian ini diperparah dengan orientasi  manusia dalam melakukan pekerjaan adalah demi memperoleh nafkah semata, singkatnya manusia bekerja untuk tidak kelaparan.

Padahal, pekerjaan adalah sarana untuk mengembangkan diri, apabila demikian yang terjadi manusia telah menyangkal dirinya sebagai makhluk yang bebas dan universal. Dan pekerjaan yang dilakukan manusia selama ini layaknya seperti binatang, semata-mata terarah pada pemenuhan fisik belaka, dan manusia benar-benar mengalami kemiskinan dalam batinnya.

Selanjutnya manusia akan terasing dari interaksi sosialnya, Marx berpendapat dalam sebuah sistem sosial yang terdapat hak milik pribadi, akan terjadi keterasingan dalam interaksi sosial masyarakat karena sifatnya yang saingan. Manusia satu sama lainnya akan saling bersaing, para pekerja akan bersaing dengan pekerja lainnya dan para pemilik modal akan bersaing merebut pasar dengan para pemilik modal lainnya.

Maka pada tahap ini manusia tidak lagi bertindak demi sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri atau demi kebutuhan bersama, melainkan hanya sebatas sejauh mana tindakannya menghasilkan uang, dan semua dilihat dari segi harganya. Agar mempermudah memahami ini mari kita lihat contoh berikut “meskipun orang lain lapar, tetapi apabila ia tidak memiliki uang, saya tidak akan memberikan makanan kepadanya” dan sebaliknya “asal saya mempunyai uang, biarpun saya tidak lapar, saya dapat memperoleh makanan sebanyak yang saya kehendaki”. Nahh dari contoh tersebut kita dapat melihat suatu fakta bahwa keterasingan dari manusia lain terlihat, kebutuhannya tidak lagi mendesak manusia untuk memenuhi kebutuhan manusia lainnya sekalipun ia mampu, sikap manusia sepenuhnya egois. Manusia hanya akan memenuhi kebutuhan orang lain sejauh manusia tersebut memperoleh keuntungan darinya.

Begitulah sekiranya konsep kerja yang diungkapkan oleh Karl Marx, maka apabila dirimu ditanya oleh sanak keluarga, teman, sahabat atau pacar tentang setelah wisuda mau kerja dimana? Hindarilah sebisa mungkin untuk menjawab daftar PNS. Jawablah dengan singkat dan dengan nada yang tegas dan meyakinkan “saya sedang mendalami konsep kerja Karl Marx” nanti saya akan beritahukan saya akan kerja dimana, karena kerja adalah sarana untuk mengembangkan kemampuan dan bakat dari sinilah rasa bangga terbentuk dan menghasilkan kebahagiaan dan sesegera mungkin akan saya kabarkan saya akan bekerja dimana.

Apalagi ketika disuruh presiden untuk kerja, kerja, kerja, jawablah dengan arif dan bijaksana. “Sebentar pak presiden, sebelum kami bekerja apakah konsep kerjamu seperti yang ditawarkan Karl Marx apabila tidak, capek deh…. “.

Sumber : Pemikiran Karl Marx franz Magnis Suseno
Ahmad Baso agama NU untuk NKRI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here