Beranda Ide Filsafat Kaderisasi sebagai Medium Pembebasan

Kaderisasi sebagai Medium Pembebasan

1094
0
BERBAGI

Kaderisasi harus terus dilakukan, dan pengetahuan yang diharapkan di dapat seorang kader melalui proses kaderisasi, mestilah juga harus sampai pada aspek emansipatoris.

Manusia adalah makhluk yang “ganjil” dan “ambivalen”. Di satu pihak ia hidup “di dalam” alam, tetapi di lain pihak, ia menghadapi alam sebagai sesuatu yang berbeda dari dirinya (F. Budi Hardiman : kritik Ideologi, 2009)

Berbeda dengan hewan yang masih tenggelam dalam alam, manusia telah mengatasi alam. Hewan hidup di dalam alam menggunakan naluri yang pas dengan tuntutan alam, sehingga hewan adalah makhluk yang genap. Mereka tak perlu menciptakan kebudayaan untuk memperlengkapi diri[1]

Di dalam diri manusia alam “retak’ menjadi dua, yaitu Alam objektif yaitu lingkungan luarnya dan Alam subjektif atau pikirannya sendiri. Keretakan ini disebabkan Nurani yang bersemayam di dalam diri manusia sudah tidak lagi bergerak secara otomatis seperti yang terjadi pada hewan. Mengapa ke-retak-an itu terjadi ? sebab disamping naluri, manusia juga memiliki kesadaran atau pikiran.

Kesadaran atau pikiran inilah yang membuat manusia sadar, bahwa ada begitu banyak batasan-batasan yang mengungkungnya. Antara ia dan alam—yang berada di luar dirinya—terdapat banyak hal yang tidak berkesesuaian.

Kondisi itulah pada akhirnya yang menuntut manusia mengambil tindakan (praxis) guna menembus batas-batas alamiah tersebut. Atau dengan kata lain manusia memanipulasi alam untuk kemerdekaannya.

Kaderisasi sebagai medium Pembebasan

Dalam konteks Organisasi, usaha-usaha untuk menyelaraskan adanya dua alam itu pada akhirnya membawa kita mengenal kata Kaderisasi. Mengapa kaderisasi ? sebab lewat proses kaderisasi lah individu-individu di sebuah organisasi akan di gembleng dan akan mendapat begitu banyak pengetahuan.

Pengetahuan, sebagai segenap informasi yang di dapat-sekaligus menetap di dalam pikiran, adalah hasil dari proses dialektis (aksi-refleksi-aksi) yang amat panjang dan berkesinambungan dari kegiatan belajar atau kaderisasi, dan mewujud dalam bentuk kesadaran atau alur pikir dalam diri  seorang kader.

Di kemudian hari, akumulasi dari pengetahuan yang menjadi kesadaran tersebut akan menjadi semacam landasan pijak baginya dalam melihat, menafsir, dan menganalisis sekaligus titik tolak dalam  mengambil tindakan atas realitas; baik realitas yang ada di dalam maupun realitas di luar dirinya.

Pengetahuan pada hakikatnya adalah penunjuk arah, serupa peta bagi manusia. Dia bukan tujuan, tapi media guna mencapai tujuan. dalam kerangka filsafat kritis, pengetahuan setidaknya memiliki 3 peran dalam kehidupan manusia, yaitu:

Peran Teknis

Pegetahuan pada tahap ini berperan sebagai sumber informasi, semacam petunjuk pelaksana manusia dalam mencukupi kebutuhan individualnya, baik fisik maupun ruhani. Misal, pengetahuan tentang tata cara beribadah dan tata cara mengontrol lingkungan alam sekitar guna memenuhi kebutuhan dasarnya.

Peran Praktis.

Manusia tidak bisa lepas dari perannya sebagai makhluk sosial. Manusia selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. Pada kesempatan ini, pengetahuan berandil sebagai sumber intepretasi atau alat menafsir kenyataan. Bagaimana sikap kita dalam berinteraksi dengan individu, kelompok atau agama lain dengan baik adalah peran praktis dari pengetahuan yang kita miliki.

Peran Emansipatoris.

Pengetahuan yang mengendap dan mewujud dalam bentuk kesadaran di pikiran manusia juga berperan sebagai pisau analisis dalam menelaah realitas sosial. Di titik inilah pengetahuan berperan sebagai media pembebasan di diri manusia.

Lewat peran-peran pengetahuan di atas, seorang individu atau kader menjadi sadar bahwa apa yang menjadi kebutuhan, cita-cita dan atau visi hidupnya (baik individual maupun sosial) bisa jadi bukanlah apa yang di-mau-nya dengan sadar.

Kebutuhan-kebutuhan itu bisa jadi adalah kebutuhan yang di-cangkok-kan—sengaja atau tidak—ke dalam dirinya lewat doktrin-doktrin atau dogma. Ada selubung ideologis yang memenjarakan kita, sehingga pada satu titik kita menjadi seragam dengan yang lain.

Kaderisasi : Teori ke Praksis

Kaderisasi sebagai sebuah proses membangun pengetahuan secara sistematis dan terus menerus dalam diri kader, mestinya harus sampai pada aspek emansipatoris.

Jika proses kaderisasi terhenti sebatas pada aspek teknis dan praktis dalam membangun citra ke-diri-annya, maka yang terjadi adalah tiap individu dalam sebuah organisasi hanya akan sibuk pada masalah dan kehidupannya yang sangat individual.

Gejala ini kiranya yang marak menjangkiti banyak organisasi, mulai dari organisasi mahasiswa hingga level organisasi sosial Agama yang lebih besar di atasnya.

Seperti dalam Agama misalnya, jika pengetahuan kita tentangnya hanya sampai pada peran teknis dan praktis, maka kita akan cenderung sibuk dengan ibadah ritual individual semata, kita terus merayu-rayu Tuhan dengan ibadah yang kita lakukan. Pada relasi sosial kita lebih dominan membincang prihal halal haram, boleh dan tidaknya kita dan orang lain melakukan ini dan itu.

Padahal, Agama juga berperan sebagai medium pembebasan. Itulah kiranya yang dilakukan Rasulullah SAW saat melakukan dakwahnya. Rasul melakukan pembebasan terhadap budak dan perempuan yang pada masa itu sangat tertindas. Agama—dalam diri Rasulullah—menjadi  spirit emansipatoris guna mendobrak situasi jahiliah masa itu.

Epilog

Kaderisasi harus terus dilakukan, dan pengetahuan yang diharapkan di dapat seorang kader melalui proses kaderisasi, mestilah juga harus sampai pada aspek emansipatoris.

Dengan berbekal pengetahuan yang membebaskan, seorang individu/kader akan terus kritis atau menanyakan kembali kenyataan-kenyataan di dalam dan di luar dirinya.

Pada akhirnya jika seorang individu sudah bisa membebaskan selubung-selubung ideologis (dalam dirinya) tersebut, maka tinggal menunggu waktu dia juga akan bergerak (baca: mengambil Tindakan) untuk melakukan pembebasan terhadap kenyataan- kenyataan  timpang yang berada  luar dirinya.

Wallahu ’alam

[1] F.Budi Hardiman, Kritik Ideologi, hlm 131

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here