Juned, Kaderisasi dan Kiyai Revolusioner

Menjelang sholat subuh Juned bersama dua orang kadernya terlihat dari kejauhan sangat bersemangat, ini ditunjukkan dengan cara  juned berbincang.

Dengan gerakan tubuh yang lugas dan tegas, tangannya menunjuk-nunjuk, matanya melotot, sesekali berdiri dan berjalan mengitari kedua kadernya. Seperti seorang serdadu yang menginterogasi musuh.

Juned adalah ketua organisasi kepemudaan di desa, yang bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi manusia dan pariwisata di desa. Berbekal label ‘anak kuliahan’ Juned begitu percaya diri dapat mewujudkan cita-cita organisasi, aku akan ceritakan kenapa Juned sangat berapi-api dalam berbincang-bincang dengan mereka.

Malam ini merupakan malam ke-10 setelah Juned dilantik sebagai ketua, juned masih memiliki harapan yang sama seperti sebelumnya, ia yakin mampu memberikan perubahan!. Tapi kali ini, semangat yang berapi-api itu perlahan mulai ditiup-tiup angin, bimbang.

Bagaimana tidak bimbang, kalau cita-cita organisasi adalah mengembangkan potensi manusia dan desa. Tapi manusia-manusia di desa sudah tidak ada, hanya tersisa orang-orang tua yang terlihat putus asa, kebanyakan dari mereka merantau ke pulau jawa untuk bekerja di pabrik atau memilih jadi pembantu di luar negeri.

Ingin mengembangkan potensi desa, tapi desa sudah tidak nampak seperti desa waktu Juned kecil. Sawah desa sudah tidak ada tergantikan jalan tol, sungai tempat Juned kecil mandi dan memancing menjadi keruh dan berbau busuk. Bukit di atas desa mulai dibangun villa-villa orang kaya dari kota.

Melihat realitas yang ada, Juned mulai berpikir keras, sesekali ia membuka buku saat kuliah ditambah menjalankan ritual-ritual ibadah, ini semua semata-mata untuk mendapatkan jawaban dari kenyataan yang sedang dihadapi. Tapi jawaban akan kebingungannya tak kunjung ia dapat.

Maka pagi ini Juned memutuskan untuk bertemu Kyai Slamet, pemuka agama setempat yang ia pernah belajar ngaji dengannya. Ini merupakan delapan kalinya Juned berkonsultasi, setelah memaparkan permasalahan, Juned diarahkan untuk menemui dua orang anak SMA Juki dan Latif yang sekarang jadi kadernya.

Sampai malam ke-10 ini, dari ba’da isya sampai menjelang subuh, Juned selalu menceritakan apa yang terjadi dengan orang-orang desa dan desanya.

Kejadian ini bukanlah terjadi dengan sendirinya tapi diarahkan dan dikontrol secara masif oleh korporasi, pemerintah dan segelintir orang yang berselingkuh dengan kapitalisme global, perjuangan kelas antara si kaya dan si miskin telah terjadi sejak berabad-abad silam.

Maka Juned berencana mengkader secara serius dua anak SMA itu, tentunya atas arahan kyai Slamet yang ia juluki Kyai Revolusioner. Yahh walaupun Juned tahu persis Juki dan Latif tak pernah benar-benar paham apa yang ia ceritakan selama semalam suntuk.

Setidaknya ia yakin hingga malam ke-10 ada binar-binar harapan dimata Juki dan Latif bukan  karena mereka nyambung, tapi karena pantulan cahaya dari game Mobile Legend. Asu!, Kapitalisme sudah terlampau dalam masuk ke jiwa anak-anak muda di desanya.

Ke-esokannya Juned kembali menemui Kyai Slamet, ia mau melakukan protes, bahwa anak-anak yang diarahkannya tidak seperti yang ia ceritakan. semangat perlawanan tak ada, omong kosong katamu yai!. Mereka sama seperti pemuda kebanyakan di desa, dengan tegas kyai Slamet menjawab.

“Juned, semangat perlawanan mereka itu ada, kamu saja yg tidak cermat!”

“Maksudnya yai”

“Yah lihat mereka bermain game tidak dengan kuota handphonenya, tapi menggunakan hotspot milikmu, kurang melawan apalagi coba mereka”.

Kyai Slamet terbahak-bahak, dan Juned hanya tercengang melihat kenyataan yang ia hadapi.

Kalau dengan menjadi ketua organisasi kepemudaan di desa dapat merubah secara keseluruhan desa ini, aku sudah melakukannya lebih dahulu juned, tak kau lihat santriku yang banyak itu pun sulit melakukan perubahan, kau yang baru 10 hari menjadi ketua sudah sok protes! Dimulai dari dua anak SMA itu, kalau kau tak mampu maka tinggalkan mimpimu, lanjut Kyai Slamet.

Juned akhirnya sadar, kalau sebenarnya juned, dan dua kadernya latif dan juki tak sadar pernah benar-benar sadar akan realitas yang dihadapi.

Bersambung, terimakasih.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: