Jokowi Harusnya Nonton Black Panther

Betapa susahnya jadi Jokowi! Ibarat judul lagu jelas “Selalu Salah” milik Geisha amat pantas mewakili perasannya—“…mengapa engkau benar dan aku selalu salah”. Atau laksana buah, segala tindak-tanduk Jokowi bak simalakama—dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu yang mati.

Minggu lalu misalnya, melalui Akun Instagram miliknya—@Jokowi—beliau menulis “Banyak yang mention film Dilan, katanya bagus. Ternyata memang keren, saya jadi teringat zaman remaja”. Alhasil bukannya menimpali dan mengomentari film Dilan, follower Pak Jokowi malah berkomentar sinis dan mengaitkan dengan bencana yang banyak terjadi di Indonesia. Ringkasnya pilihan Pak Jokowi untuk refreshing nonton dilan dianggap tidak merakyat, tidak empati. Sabar, Pak!

Sebagai warga negara yang baik saya  memiliki saran untuk Pak Jokowi yakni segera menghapus postingan nonton Dilan di Instgaram, juga meminta media online untuk melupakan pemberitaan itu. Beralih lah Pak, nonton Black Panther, kalau sudah nonton silahkan dipamerkan, mudah-mudahan tidak ada yang menghujat Bapak karena film tersebut mengandung pesan yang lebih berat dan  lebih mutu ketimbang  rindunya sejoli bau kencur, Milea kepada Dilan.

Survive Menghilangkan Kemiskinan

Nanti bapak akan melihat Wakanda—negara kekuasaan Black Panther— yang seharusnya tidak lebih baik dari Indonesia. Wakanda merupakan negara yang sengaja mengasingkan diri dari dunia luar tetapi memiliki tekhnologi yang sangat mumpuni, canggih, dan tak dapat disepelekan.

Geografis Wakanda terletak di Afrika Utara. Awalnya saya tidak ngeh kenapa mesti Afrika Utara.  Belakangan saya tersenyum ketika mengingat adegan demi adegan dalam film tersebut dan  berkesimpulan bahwa hal itu bukan bagian dari skenario kosong tanpa makna!

Afrika Utara yang dikenal oleh PBB  sebagai Aljazair, Libya, Maroko, Mesir, Sahara Barat, Sudan, Tunisia, merupakan negara-negara yang tidak tercantum ke dalam The 10 Richest Countriesin The World versi IMF, namun nyatanya terdapat  satu negara yang berdikari dalam energy dan dapat mensejahterakan rakyatnya sendiri. Dari itu Pak Jokowi semestinya haqqul yaqien kalau Indonesia mudah untuk melakukan itu.

Di Wakanda warganya tidak ada yang keluar negeri untuk mencari nasi, mereka diutus untuk paling tidak menjadi mata-mata demi kepentingan negara. Warga Wakanda tidak ada yang mati disiksa karena  menjadi TKW (Tenaga Kerja Wakanda) di Hongkong. Tidak ada adegan siksa live streaming seperti yang dialami Tri Utami TKW asal Blitar oleh majikannya. Gak akan ada!

Padahal kalau di-SWOT  tetaplah bangsa Indonesia “apalah-apalah” dibandingkan Wakanda. Indonesia memiliki segala macam kelebihan  dibandingkan negara-negara di seluruh dunia, termasuk Wakanda karena masih banyak yang bisa kita tanam untuk dimakan, dan begitu melimpah yang bisa kita gali untuk  digunakan sendiri.

Setelah nonton Black Panther Pak Jokowi harusnya terinsipirasi untuk memiskinkan kemiskinan hingga 0% di Indonesia. Jangan terlena dengan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa warga negara di perkotaan dan pedesaan berkurang pada kurun Maret hingga September 2017 ke jumlah 10,27 juta orang, dan 16,31 juta  orang (www.bps.go.id). Pak Jokowi harus sadar bahwa 26 juta lebih itu  3 (tiga) kali lipat lebih penduduk Provinsi Lampung.

Vibranium untuk Negeri Sendiri

Sayangnya, Wakanda punya cara sendiri yang mau tidak mau harus kita contoh,  Pak. Vibranium miliknya yang dapat digunakan sebagai sumber energi dikelola sendiri dan untuk sepenuhnya kepentingan rakyatnya. Sepertinya Wakanda mensontek kemudian mengejawantahkan diam-diam Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 milik kita, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” .

Kesehatan, militer, bahkan sampai transportasi umum semuanya menggunakan energi yang dihasilkan dari perut Wakanda sendiri. Semua dieksplorasi, digunakan, dan dijaga dengan hati-hati tanpa melibatkan perusahaan asing.

Wakanda tidak pernah meributkan suatu perusahaan penambang akan dilanjutkan kontraknya atau tidak. Dinego atau tidak. Tidak ada oknum pemerintahan yang selingkuh dengan korporasi  dan  menjual negaranya sendiri untuk kepentingan pribadi dan sekelompok orang. Pejabat dan para penasihat Black Panther mencintai Wakanda  lebih dari dirinya sendiri.

Di Wakanda tidak ada lembaga semacam KPK, tidak ada skandal Papa minta saham gegara “si manis” vibranium. Apalagi kepala Daerah yang meringkuk di penjara karena masalah duit. Gak ada!

Di akhir kisahnya kita harus angkat topi atas tindakan T’Challa―nama asli Black Panther― membuka diri untuk dunia dan berperan aktif  menyelesaikan masalah kemanusiaan. Meski sempat ditentang, keputusan T’Challa menggambarkan bahwa dirinya seperti pernah mondok karena paham betul bahwa segala keputusannya harus berkesusuaian dengan kaidah  Tasorroful imam ‘ala ro’iyatihi manutun bil maslahah. Dan ia yakin betul bahwa menjadi manfaat bagi banyak manusia adalah orientasi penciptaan manusia itu sendiri.

Tetapi, meski Pak Jokowi belum nonton Black Panther dan memilih menonton Dilan saya sedikit lega karena Pak Jokowi tidak ikutan  menulis caption  “Menjadi Presiden itu Berat, kamu gak akan kuat, biar aku saja”. Heheheuuuuu

Kerja, kerja, kerja.

*Penulis merupakan santri Rumah Ideologi KLASIKA yang juga penikmat musik dangdut, fans berat Nella Kharisma  dan orek tempe makanan favoritnya

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: