Beranda Ruang Cerpen Islam Nusantara Sebagai Identitas

Islam Nusantara Sebagai Identitas

165
0
BERBAGI
sumber gambar : http://www.islamnusantara.com

al-Muhafazhatu ala-l-Qadimi-sh-Shalih wa-l-Akhdzu bi-l-Jadidi-l-Ashlah

Pagi itu Jon dan Agus sedang santai sambil lihat berita di chanel tv favoritnya. Ia menyaksikan berita tentang Presiden Amerika Donald Trump yang menyatakan bahwa Yerusalem adalah ibukota dari Israel, hal itu memicu respon yang bervariatif dari berbagai kalangan dari masyarakat biasa hingga artis sibuk membicarakan hal ini. Sangking sibuknya mereka lupa dengan negara sendiri.

Lagi asik-asiknya Agus memperhatikan tv tiba-tiba Jon mematikan tv, “Wih Jon reseh amat sih lu, gua lagi serius nih biar gak ketinggalan berita,” teriak Agus menggerutu. “Gus-gus kayak lu ngerti aja persoalan begituan, kita itu terlalu sibuk ngurusin orang sampai kita lupa sama masalah kita sendiri,” kata Jon dengan nada mengejek.

“Yang begituan itu Gus sebenernya yang bikin umat Islam itu gak percaya diri dan akhirnya menutup diri dari budaya luar untuk kembali ke al-Qur’an dan Hadits seperti yang dilakukan Ibnu Taimiyah dulu yang mengajak umat Islam kembali ke al-Quran dan Hadits atas kegelisahannya, ketika bangsa Arab menderita kekalahan oleh bangsa Mongol,” lanjutnya menjelaskan.

“Sok tau lu mah Jon, kan malah bagus kalo kita kembali ke Al-qur’an dan Hadits,” saut Agus sambil menghiraukan omongan Jon.

“Dikasih tahu ngeyel lu ini Gus, itu mah menurut elu. Itu malah membuat umat Islam semakin terpecah, manusia bakal terlalu tekstual menafsirkan ayat-ayat Al-qur’an karena tidak diimbangi dengan pengetahuan dan inilah yang akhirnya yang memunculkan Islam radikal seperti sekarang.” sambut Jon.

“Kok gitu Jon?,” tanya Agus mulai tertarik dengan pembahasan Jon.

“Ya iyalah gus, emangnya elu bisa menafsirkan Al-qur’an sendiri Cuma dengan baca terjemahan atau dengar ceramah di tv? Ayat-ayat Al-Qur’an juga kan dulu diturunkannya melihat dari peristiwa dan keadaan Arab pada saat itu Gus,” jawab Jon dengan santai.

“Karena kemampuan kita ini terbatas makanya ulama kita dulu mengajak kita bermazhab agar kita ini tidak salah tafsir,” sambungnya.

“Karena ulama nusantara dulu itu menyadari hal-hal itulah, makanya Islam bisa berkembang di nusantara,” ujar Jon.

“Emang Ulama dulu gimana Jon?,” tanya Agus penasaran. “Ulama kita dulu tidak tekstual Gus menafsirkan ayat Al-Qur’an, mereka menyadari hal-hal tersebut dan belajar dengan guru yang memiliki sanad keilmuannya sampai ke Rosulullah SAW,” ujar Jon.

“Mereka menyebaran Islam di nusantara dengan menyesuaikan teks Al-qur’an dan keadaan geografis dan budaya saat itu,” jelas Jon dengan serius.

Agus masih saja belum paham dan bertanya, “Bukannya itu malah merubah ajaran Islam ya Jon?”

“Ya enggaklah Gus, Rosul juga kan dulu begitu di Arab sana,” kata Jon.

“Itu malah mempermudah umat Islam beribadah. Contohnya di Arab Nabi mengajarkan berzakat dengan gandum karena itu merupakan makanan pokok di sana, maka Ulama kita menggantinya dengan beras, itu kan namanya mempermudah Gus,” kata Jon menerangkan agar temannya paham.

“Iya juga ya, pinter juga lu Jon,” kata Agus sambil mengangguk. “Terus apa hubungannya dengan berita tadi Jon?” sambungnya.

“Makanya baca buku Gus” saut Jon dengan nada mengejek, lalu lanjut menjelaskan, “Ya akhirnya jika begini terus umat Islam di Indonesia jadi tidak percaya diri dan ada rasa ketakutan akan terjadi hal sama di negara kita dan menutup diiri, kemudian timbul sikap radikal bahwa semua yang diluar kita itu tidak benar. Itulah makanya akhir-akhir ini banyak kelompok yang meneriakan untuk mengganti sistem negara kita menjadi khilafah.”

“Emang apa yang salah Jon dengan Khilafah?” tanya Agus lagi.

“Ya gak ada yang salah, tapi menjadi tidak tepat ketika diterapkan di sini. Karena NKRI merupakan kesepakatan para pendiri bangsa kita yang terdiri dari berbagai kalangan masyarakat termasuk tokoh agama, begitu pun di Arab menggunakan sistem khilafah bermula karena wilayahnya dikuasai oleh satu keluarga yaitu Raja Saud makanya bentuknya menjadi kerajaan alias khilafah,” kata Jon.

“Makanya kita itu harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila dan jangan terlalu ngurusin negara lain sampai akhirnya lupa dengan negara sendiri,“ kata Jon menasihati Agus.

“Terus Jon masa kita diem aja ngeliat saudara kita di Palestina dijajah sama Amerika kampret itu,” kata Agus dengan wajah serius tapi kebingungan.

“Ya untuk membantu mereka kan gak harus ke sana juga gus, kita bisa langsung mendo’akan dari sini atau melakukan penggalangan dana, ketimbang lu ngoceh gak jelas terus tiba-tiba teriak khilafah,” jawab Jon malas sambil beranjak ke kamar mandi meninggalkan Agus sendirian.

Selepas ditinggal sendiri, Agus tertidur. Dalam tidurnya ia disambangi seorang kiai yang terlihat sangat karismatik yang ternyata Syekh Jumadil Kubro.

Kiai tersebut mendekatinya, Agus bertanya-tanya dalam hatinya “Apakah dia Malaikat?”

Setelah berhadapan tiba-tiba kiai tersebut menjambak rambut Agus sambil teriak “Gak usah kamu sok mikirin palestina Agus! Rajin-rajin saja kamu ibadah, biar Nusantara damai terus!!”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here