Islam dan Keragaman Kelompok-Kelompok

Islam memandang manusia itu makhluk yang sangat dimuliakan, karena memiliki kualitas-kualitas yang esensinya menyatukan antara basyar-nafs (badani-jasmani), nas (sosial-interaksi dan proses), dan insan-qalb-akal-ruh (tempatnya kelembutan-budi, pengutamaan orang lain dan kesadaran kepada yang Haqq).

karenanya ia disebut dengan ayat: walaqod karromna bani adam (al-Isra ayat 70), dan sungguh-sungguh telah kami muliakan anak-anak Adam. Karena kualitas-kualitas dirinya sebagi basyar-nas-insan itulah manusia dijadikan sebagai khalifah di muka bumi untuk mengurus dan memakmurkannya, inni ja`ilun fil ardhi kholifah.

Pada awalnya manusia itu satu umat, tetapi karena seringkali berbeda pendapat, dan bahkan berperang, mereka akhirnya menjadi kelompok-kelompok, sebagaimana disebutkan dalam ayat: “Dan tiada manusia hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih

Kalaulah tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu” (QS. Yunus ayat 19).

Kelompok-kelompok itu ada yang dibedakan dalam kategori perbedaan dengan basis kalam-bahasa-pendapat (alsinah), warna kulit (alwan), seperti dalam ayat: Wamin ayatihi kholqussamawati wal ardhi ikhtilafu alsinatikum wa alwanikum inna fi dzalika laayatil lil alimin (QS. Ar-Rum ayat 22).

Ada yang karena jenis kelamin, suku dan bangsa, seperti dalam ayat: Inna kholaqnakum min dzakarin wa untsa, waja`alnakum syu`uban wa wa qabaila (QS. Al-Hujurat ayat 13).

Disebut umat dengan diberi kebudayaan dan tatacara beribadah seperti dalam ayat tiap-tiap umat kami jadikan syariat dan jalan (QS. Alo-Maidah ayat 48); dan ada yang disebut mereka dengan qaum, sebagai komunitas manusia berakal-budi, seperti dalam ayat la yaskhor qaumun min qaumin; dan ada yang disebut dengan basis din, seperti dalam ayat lakum dinukum waliyadin, dan lain-lain.

Masing masing kelompok itu dijadikan alamiah memiliki kebanggan terhadap kelompoknya, sebagaiman disebutkan oleh ayat: “Sesungguhnya agama tauhid ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertakwalah kepadaku, kemudian mereka (pengikut rasul itu), menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa golongan, tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada diri mereka” (QS. Mu’minun ayat 52-53).

Hal ini menegaskan, bahwa Alloh menghendaki al-katsrah atas makhluq, dan menghendaki al-katsrah itu:

  1. Agar beribadah mempertinggi ketakwaan hanya kepada Alloh dan mempersiapkan kehidupan di dunia ini sebaik-baiknya untuk kehidupan di akhirat (illa liyabudun; inna akaramakum indallohi atqokum)
  2. Agar saling kenal mengenal (al-Qur’an menyebutnya lita`arahu); saling menghormati (lakum dinukum waliyadin).
  3. Agar saling lemah lembut (Al-Qur’an menyebutnya dengan fabima rahmatin minallohi linta lahum), menciptakan rasa aman.
  4. Agar berlomba dalam berbuat kebajikan (al-Qur’an menyebutnya fastabiqul khoirot);
  5. Agar saling bersambung (hadits-hadits Nabi menyebutnya silaturahmi); dan menyayangi.
  6. Agar  saling menasehati (al-Qur’an menyebutnya watawashau bil haqq dan wa tawashouw bishshobri);
  7. Agar berdebat dengan cara yang baik (wajadilhum billati hiya ahsan).
  8. Agar saling tolong menolong dan gotong royong dalam kebaikan (Al-Qur’an menyebutnya, wa ta`awanu alal biiri wattaqwa);
  9. Agar saling berdamai (ash-shulhu khoiru; dan wa ashlihu bainahum)
  10. Agar melakukan musyawarah, mengusahakan adanya konsensus, dan persatuan (ta`alau ila kalimatin sawa, wa amruhum syura bainahum; dan hadits Nabi menyebutkan fadhilah ishlahu dzatiil bain). Hasil musyawarah dan konsensus perlu dipandang dengan ar-ridho bisysyai’ ridho bima yatawalladu minhu.

Aplikasinya, ridho terhadap sesuatu misalnya terhadap konsensus yang ada, yaitu Pancasila dan UUD 1945, juga harus ridho terhadap konsekeunsi apa yang lahir darinya, dengan tanpa kehilangan amar ma’ruf bil ma’ruf wa nahyu `anil munkar bil ma’ruf. Dan, hal ini mensyaratkan harus ada ulil amri yang ditaati dan diakui syah menurut agama, yang keputusan-keputusan aturannya mengikat.

Karena kelompok-kelompok ini memiliki kecenderungan berbangga, maka ia dilarang:

  1. Saling menghina, mencaci maki, mengobarkan permusuhan dan peperangan, dan saling menjauh dengan maksud agar terjadi pemutusan silaturahmi dan pertengkaran. Mereka yang melakukan ini akan menyebabkan perselisihan, tafarruq, dan saling bunuh mengobarkan fitnah, kekacauan dan anarki (Wala tajassasu wala tabaghodhu, dan seterusnya; wala yaskhor qaumun min qaumin; dan Wa la tasubbulladzina yad`una min dunillah fayasubbulloha adwan bighoiri `ilmin (QS. Al-Anam ayat 108), membawa implikasi saling menghormati dan dan tidak boleh mencaci maki.
  2. Agar tidak saling memaksakan kehendak dalam mengajak beragama-berkepercayaan (la ikroha fiddin), tanpa menafikan masing-masing kelompok memiliki pandangan-pandangan tertentu.

Mereka yang tidak terlibat mengobarkan tafarruq dan saling adu domba, saling bunuh pertengkaran, dan tidak memaksakan kehendaknya kepada satu kelompok ke kelompok lain, dan inilah yang diisyaratkan  Al-Qur’an sebagai “mendapatkan rahmat Alloh” di dalam ayat: “Dan jika Tuhan dikau menghendaki, niscaya ia membuat manusia satu umat.

Dan mereka tak henti-hentinya berselisih, kecuali orang yang dirahmati Tuhan engkau. Dan sempurnalah firman Tuhan engkau: Aku akan memenuhi neraka dengan jin dan manusia semuanya” (QS. Hud ayat 118-119).

Dalam Tafsir Durrul Manshur, juz VIII: 117, disebutkan bahwa umat yang satu itu, menurut pendapat Imam adh-Dhahak, adalah satu agama, atau satu ahli dholal, dan atau satu umat yang mendapat petunjuk. Alloh bisa menjadikan ini semua, dalam bentuk satu pandangan, satu kebenaran pemahaman, dan satu kelompok agama-kepercayaan. Tetapi itu tidak dilakukan oleh Alloh.

Kemudian, mereka yang mendapatakan rahmat atau ahlu rahamatillah itu  menurut Ibnu Abbas adalah: mereka yang tidak berselisih (maksudnya adalah bertengkar menimbulkan permusuhan); tidak mengobarkan sebagai ahlul ikhtilaf adalah senantiasa mereka berselisih karena mengikuti hawa nafsu (nafsu condong pada pelampiasan kemarahan, dendam, dan akhlak tercela)

Menurut Imam Al-Hasan mengatakan larangan berselisih, yaitu firrizqi; dan Qotadah, ahlu rahamtillah itu adalah ahlul jamaah (ahli yang mengusahkan persatuan bersama mayoritas umat) meskipun mereka berpisah rumah dan badan-badan.

Jadi, haruslah disadari juga bahwa perbedaan pendapat, ikhtilaf, bisa menghancurkan dan tidak mendapat rahmat Alloh, manakala diorientasikan untuk saling bermusuhan, bertendens mencari ekonomi semata ketika berinteraksi dengan kelompok lain, seperti kata Imam al-Hasan, yaitu firrizqi.

Sebab permusuhan itu adalah pertengkaran yang mengakibatkan kekacauan, perusakaan peradaban yang sudah dibangun, dan saling bunuh. Ikhtilaf dan keragaman kelompok-kelompok akan menjadi bencana bila kelompok-kelompok diorientasikan untuk hal demikian.

Hal ini penting menjadi perenungan umat Islam ketika Al-Qur’an sendiri menyatakan, setiap kelompok itu akan selalu berbangga dengan kelompoknya. Meskipun di situ menggunakan kata kullun, yang tidak bermakna semua orang di kelompok itu akan mengorientasikan kelompoknya demikian. Sebab, kullun juga bisa bermakna ba’dhun, sebagian.

Maka sebagian dari kelompok-kelompok itu, bisa saja menggunakan pendapat dan kelompok-kelompok, untuk digunakan tujuan-tujuan ekonomi (ar-rizqi) yang merusak yang tidak halal, seperti kata Imam al-Hasan; atau tujuan-tujuan kotor yang memicu permusuhan, pertengkaran, mengadudomba, dan mengobarkan fitnah, sehingga bisa terjadi peperangan-peperangan dalam segala levelnya.

Oleh karena itu, meskipun kritik itu dibenarkan sebagai bagian dari amar ma’ruf dan nahi munkar; juga pemimpin-pemimpin sebagai pemimpin yang zholim dan fajir dikeculikan dari membicarakannya sebagai terkena dosa ghibah (berdasarkan hadits-hadits Nabi);

Banyak hadits Nabi menyebutkan afdhalul jihad kalimatul haqq `indas sulthanil jair, atau qulil haqq walau kana murron, tetaplah tidak bisa diragukan bahwa kritik-kritik yang mendorong permusuhan, mengadudomba, menimbulkan pertengkaran, dan anarki, atau penggulingan kekuasaan secara illegal hajat ditinggalkan. Sementara kritik sebagai kritik dan oposisi-oposisi sholeh di dalam kerangka konsensus-konsensus yang ada, wajiblah didukung.

Walhasil, bila kelompok-kelompok dan pendapat-pendapat, telah mengarahkan artikulasi kepentingannya dan mendorong hal-hal demikian untuk memperkeras permusuhan, dan tidak memiliki ciri-ciri: tidak lemah lembut, tidak saling kenal mengenal (bersahabat), tidak saling fastabiqul khoirat, tidak taawun, tidak tawashow, dan tidak ada kerja-kerja yang mendorong perdamaian, keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat untuk mencapai konsensus, maka akan jelas mendatangkan kemudhorotan lebih besar bagi sebuah sistem sosial.

Yang perlu dilakukan kalau sudah demikian adalah:

  1. Dar’ul mafasid muqaddam `ala jalbil masholih. Aplikasinya, dalam kehidupan sosial kita umat Islam, adalah meninggalkan hal-hal yang merusakkan atau memudharatkan yang terlihat besar harus lebih didahulukan dari pada keinginan menarik manfaatnya yang mungkin saja memang ada tetapi lebih kecil.
  2. Al-khuruj minal khilaf aula au mustahab. Aplikasinya, dalam kehidupan sosial kita umat Islam adalah keluar dari ikhtilaf yang memicu pertengkaran-permusuhan menuju konsensus dan perdamaian harus lebih diutamakan daripada mengobarkan fitnah memicu pertengkaran dengan tendens kelompok.
  3. Ad-daf`u aqwa minar raf`i. Aplikasinya dalam kehidupan sosial kita umat Islam, adalah mencegah terjadinya kemudharotan yang kelihatan akan timbul secara besar lebih utama daripada mengatasinya bila sudah terjadi kekacauan-kekerasan; dan ini relevan dengan cara-cara perang asimetris pada saat ini.

Itu harus dibarengi cara yang paling langgeng, yaitu negara senantiasa menegakkan keadilan, mengusahakan kemaslahatan, menindak segala bentuk kekerasan manifes yang merugikan hak orang lain; dan mencegah potensi-potensi yang mengarah pada penghancuran konsensus nasional Pancasila dan Konstitusi dengan cara-cara legal dan rekayasa kebudayaan.

Nur Kholik Ridwan

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: