Islam dan Fenomena Media Sosial

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Sahih Muslim dan dikabarkan oleh Umar bin Khatab. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ada tiga pokok penting dalam Islam yaitu Iman, Islam dan Ihsan ketiganya adalah satu kesatuan yang utuh (kaffah).

Namun para Ulama membagi ketiganya menjadi disiplin  ilmu yang terpisah. Hal ini bertujuan untuk menjawab tuntutan zaman seiring kecenderungan manusia yang ingin mempelajari sesuatu yang terperinci. Itulah sebabnya dikalangan para Ulama juga dikenal pembagian sesuai dengan disiplin ilmunya.

Dewasa ini kita banyak melihat fenomena orang berduyun-duyun memanjangkan jenggotnya atau melebarkan jilbabnya seraya merasa diri sudah Islam.

Mirisnya fenomena ini didasari oleh informasinya yang berasal dari sumber yang masih diragukan kebenarannya (media social, internet dan lain-lain). Bahkan ada yang berpendapat bahwa untuk mempelajari Islam yang kaffah itu tidak perlu masuk kedalam golongan atau mazhab tertentu.

Padahal sejak zaman Khalifah Ustman bin Affan perbedaan masalah kalam sudah mulai bermunculan. Khalifah Ustman hanya berjarak puluhan tahun masa kepemimpinannya setelah Rasulullah SAW.

Bagaimana dengan kita yang sudah berjarak 1400 tahun lebih dengan Rasul? Disinilah peran para Ulama sebagai penerus dari pada nabi Muhammad SAW.

Para Ulama berdasarkan pisau analisis yang telah matang Ia pelajari melakukan upaya upaya (ijtihad) dalam rangka menafsirkan teks yang diajarkan Rasulullah SAW.

Tentunya untuk menjadi seorang mujtahid (orang yang berijtihad) terdapat standar atau syarat yang tidak semua orang miliki. Maka kita dianjurkan untuk bertaqlid (mengikut) apabila tidak mampu berijtihad.

Dalam bertaqlid kita mengenal istilah ‘taqlid buta’. Taqlid buta adalah mempercayai suatu pendapat tanpa mengetahui dalilnya.

Allah SWT berfirman, “Mereka berkata: sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikut) jejak mereka.” (Q.S az-Zukhruf : 22.).

Ayat tersebut turun didasari kaum Jahiliyyah yang mengikuti tradisi nenek moyangnya tanpa ilmu, kemudian Allah mencela mereka. Maka dalam bertaqlid pun tidak bisa hanya menerima pendapat dari tokohnya saja, harus diikuti dengan mempelajari dalilnya dan memperhatikan serta menjaga sanad keilmuannya.

Karna taqlid yang buta inilah kebanyakan orang awam sering salah memahami isi dari informasi, padahal informasi yang diperolehnya masih ‘parsial’ (tidak utuh). Misal mendengarkan ceramah via youtube atau informasi dari sosial media lainya yang kemungkinan terdapat pemotongan dari informasi yang asli.

Belum lagi jika terjadi kesalahan dalam menafsir teks yang disajikan. Karna tidak bertemu langsung dengan sang penyampai informasi, tidak ada yang mengontrol apabila terjadi kebingungan dalam menafsir teks.

Disitulah sering terjadi kesesatan dalam menalar yaitu memahami informasi yang dia dapat berdasarkan bangun fikir yang ada di kepalanya yang ternyata hal tersebut tidak ada hubungannya dengan yang dimaksud oleh penyampai informasi.

Jadi dalam mempelajari agama tidak bisa asal menerima saja pendapat seseorang tanpa menelusuri apa penyebab dan dasar argument yang dilontarkan. Dan jangan lupa  untuk mengkomparasi satu dalil dengan dalil lainnya yang memiliki konteks makna yang sama.

Apatah lagi hanya mengandalkan media social sebagai sumber informasi. Maka sebaiknya dalam mempelajari agama dianjurkan memilki guru dan tidak langsung menerima apa saja yang disajikan oleh media sosial. seperti yang disampaikan dalam sebuah kaidah “ Barangsiapa yang tidak mempunyai Guru, maka Gurunya adalah Setan. “

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: