INTELEKTUAL

Sejak dahulu, setiap manusia yang memiliki pengetahuan atau setidak-tidaknya yang memiliki kesempatan untuk merengkuhnya, menjadi manusia yang berpredikat “istimewa”. Istimewa, karena secercah harapan yang berasal dari keluarga,  masyarakat, sampai bangsa! Seolah-olah berada di pundaknya. Harapan soal apa? Sudah tentu tentang kehidupan yang baik dikemudian hari, umumnya berupa harta kekayaan, jabatan, dan nama baik.  Manusia istimewa tersebut biasa disebut kaum intelektual.

Isitlah kaum intelektual biasa disematkan pada manusia yang berkutat dengan berbagai pemikiran rumit nan njlimet serta riset-riset yang menguras materi dan energi. Aktivitas tersebut biasa melekat pada mahasiswa dan tenaga pengajar di sebuah perguruan tinggi.

Namun, belakangan ini saya cukup skeptis tentang predikat “istimewa” yang sudah terlanjur disematkan pada mereka. Ketika jumlah mahasiswa dan dosen menginjak angka yang fantastis sebagaimana yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa jumlah mahasiswa 6.924.511 dan dosen 247.269.

Namun, tingginya jumlah tersebut ternyata tak berarti banyak bagi kehidupan masyarakat. Ketimpangan sosial dan praktik yang patologis semacam, korupsi, penyalahgunaan narkoba, menyebar berita palsu, melakukan tindakan kekerasan, penipuan, hingga melakukan pelecehan seksual masih cukup tinggi terjadi. Parahnya, mereka pun menjadi “pelaku” baik secara  langsung atau pun tidak.

Secara langsung yakni, mereka menjadi pelaku yang melakukan praktik “kotor” tersebut dan secara tak langsung, mereka menjadi salah satu faktor yang menyebabkan berbagai praktik yang patologis itu terus-menerus terjadi dengan melakukan pembiaran.

Nampaknya, sudah semestinya melakukan pembacaan ulang terhadap istilah “intelektual” dan mencoba mempertanyakan kembali pandangan umum, bahwa benarkah peran para intelektual adalah meraup kekayaan, jabatan, dan nama baik sebagaimana yang lazimnya terjadi di abad modern hari ini. Untuk menjawab dua hal di atas, saya akan memulai dengan sebuah pertanyaan, apa itu intelektual?

Secara bahasa, intelektual berasal dari bahasa latin yakni intelligere yang artinya memahami. Kata intelligere sendiri berasal dari gabungan kata inter dan legere. Inter berarti “di antara” dan legere yang artinya mengumpulkan, memilih, mencerap, dan membaca.

Kata intelektual sendiri telah digunakan oleh para pemikir-pemikir besar semisal, Aristoteles, Julien Benda, Antonio Gramsci, dan Edwar Said dengan maksud penggunaan yang beraneka ragam. Meskipun secara umum penggunaan kata “intelektual” digunakan untuk menunjukan kemampuan kognitif manusia dalam upaya untuk menjelaskan seluruh fenomena yang terjadi dalam kerangka teoritis yang sistemik dan rasional.

Aristoteles sendiri menggunakan kata intelektual sebagai istilah untuk membangun sistem filsafatnya. Dalam pemikiran Aristoteles istilah intelektual digunakan untuk menjawab pertanyaan “apa yang menyebabkan sesuatu itu ada”. Kemudian dirinya merumuskan bahwa terdapat empat sebab sesuatu itu “ada” yakni materi, forma, efisien, dan tujuan.

Materi merupakan unsur pembentuk yang memiliki potensi untuk diubah menjadi sebuah bentuk (forma), efisien merupakan “tukang” yang melakukan proses perubahan terhadap materi hingga menjadi bentuk (forma) dan diakhiri dengan tujuan, untuk apa sesuatu itu “ada”.

Dalam sistem filsafatnya, Aristoteles menjelaskan bahwa penyebab efisien adalah manusia yang memiliki kemampuan intelektif, hanya saja manusia adalah intelektual pasif yang masih memerlukan materi (unsur) untuk menyebabkan sesuatu itu “ada”. Sedangkan segala sesuatu yang ada di semesta ini sudah terlebih dahulu “ada” dan mustahil tanpa terdapat sebab yang menyebabkannya “ada”, dalam pandang Aristoteles penyebabnya adalah intelektual aktif yang tidak lagi memerlukan materi untuk dibentuk. Dalam isitilah Aristoteles, intelektual aktif ini disebut motor imobile, penggerak yang tanpa digerakkan.

Lain halnya dengan Julien Benda yang menggunakan kata Intelektual untuk melakukan kritik dan membangun konsepsi ideal bagaimana seorang intelektual semestinya. Dalam pemikiran Julien Benda,  seorang intelektual adalah setiap orang yang kegiatan utamanya bukanlah mengejar tujuan praktis, tetapi mencari kegembiraan dalam mengolah seni, ilmu, atau renungan metafisik.

Julien Benda pun menegaskan, bahwa sejak dahulu para intelektual adalah seorang moralis yang kegiatannya menggugat realisme massa yang cenderung menuruti kehendak-kehendak pribadi yang sesat. Sebagaimana yang terjadi semasa hidupnya, ketika gagasan fanatisme patroit tersebar luas dan menggelorakan kebencian antar ras, membiakkan gairah berperang, dan menjungkirbalikan tatanan moral.

Dalam kacamata pemikir Marxis berkebangsaan italia, Antonio Gramsci. Kata Intelektual layak disematkan kepada setiap manusia, sebagaimana yang diungkapakan dalam bukunya Prison Notebook bahwa “orang dapat mengatakan: semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua manusia memiliki fungsi intelektual”.

Ihwal fungsi Intelektual, Gramsci memperlihatkan ke dalam dua jenis. Pertama, intelektual tradisional, semacam guru, agamawan, dan para adminstrator yang secara terus-menurus melakukan hal yang sama dari generasi ke generasi demi melanggengkan status quo (kekuasaan) yang menindas secara sadar ataupun tidak. Kedua, intelektual organik, yakni orang-orang yang berupaya membongkar praktik penindasan yang telah menghegemoni masyarakat untuk secara suka rela menyerahkan diri pada praktik tersebut. Tak seperti para guru, agamawan, dan para adminstrator yang melakoni pekerjaan dari tahun ke tahun, intelektual organik selalu aktif bergerak dan berbuat.

Salah seorang pemikir yang layak dijadikan rujukan untuk membincang kata “intelektual” adalah Edward Said, seorang pemikir berkebangsaan Amerika Serikat keturunan Palestina yang gigih melakukan pembelaan terhadap setiap orang dan kelompok yang termarjinalkan.

Bagi Said, seorang intelektual adalah pencipta bahasa yang mengatakan kebenaran kepada penguasa, entah sesuai atau tidak dengan kuasa-kuasa yang ada. Dosa paling besar seorang intelektual adalah apabila ia tahu apa yang seharusnya dikatakan, tetapi ia menghindar. Ia tak pernah boleh mau untuk mengabdi pada mereka yang berkuasa, maka keberpihakan seorang intelektual jelas pada kebenaran dan keadilan bukan kekuasaan.

Seperti yang telah diungkap sebelumnya, bahwa secara umum masyarakat Indonesia memandang seorang intelektual adalah orang-orang yang mengharap kehidupan yang lebih baik dikemudian hari. Nahas, kehidupan yang lebih baik itu dimaknai sebagai cara untuk memperkaya diri sendiri, merengkuh jabatan, dan meningkatkan status sosial semata. Sangat jarang kita temui –bukan berarti tak ada– para intelektual Indonesia yang secara gigih mendedikasikan dirinya pada kebenaran dan keadilan untuk seluruh manusia. Banyak diantara para intelektual Indonesia bersembunyi diketiak para penguasa dan Suka mencari pengayoman kepada organisasi cendekiawan berdasarkan agama.

Dengan demikian, akan sulit para intelektual Indonesia untuk dapat mandiri mempertahankan keberanian dan kritis, para inteletual Indonesia lebih cenderung menggantungkan diri pada bendera organisasi yang diikutinya. Sikap tegas non-primordial, non-sektarian dan mendasari sikapnya pada kebenaran dan keadilan, tentu sukar mereka lakukan.

Oleh karena itu, sulit kita temui intelektual yang diidamkan oleh Julien Benda di Republik ini, bahwa para intelektual adalah seorang moralis ala filsuf raja Plato yang gigih mengabdikan diri pada kebaikan bersama. Atau membongkar praktik-praktik yang menindas ala intelektual organik Gramsci. Atau mengatakan apa yang harusnya dikatakan sebagaimana yang dilakukan oleh Edward Said dalam melakukan pembelaan terhadap mereka yang tertindas dan menempatkan dirinya sejajar dengan kaum lemah yang tersisihkan serta tak terwakili, sebagaimana nasib bangsa Palestina yang secara gigih ia bela.

Beberapa pemikiran yang dicetuskan oleh para pemikir besar di atas, rasanya cukup bagi kita semua untuk kembali menghayati, bahwa seorang intelektual yang memiliki keistimewaan di tengah-tengah masyarakat memiliki tugas yang mulia. Bukan untuk mengabdikan diri pada harta kekayaan¸ jabatan, dan nama baik semata.

Sudah sepatutnya kita merubah cara pandang ini. Dengan jumlah mahasiswa 6.924.511 dan dosen 247.269 sudah semestinya kita semua bersatu dan berpihak pada kebenaran dan keadilan, untuk semua, terutama mereka yang terpinggirkan dan tak terwakili. Karena bila tidak, kata intelektual akan terspisah dari huruf “in” dan “tual” dan hanya menyisakan kata “telek” yang dalam bahasa jawa berarti kotoran. Tentu tak menyenangkan bila selama kita hidup, kepala kita hanya berisi kotoran.

*Penulis adalah mahasiswa fakultas Syari’ah UIN Raden Intan Lampung. Penyuka kajian Filsafat dan Humaniora yang sejak kecil tidak bisa lepas dari musik Dangdut dalam kesehariannya.

 

 

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: