Indonesia dan Keutamaan Manusia Plato

Pejabat negara adalah manusia yang mestinya secara moral mampu mengharmonisasi atau melakukan kontrol diri (self control) atas tiga unsur keutamaan tersebut dalam dirinya, yaitu logistikos, thumos dan ephitumia.

Indonesia adalah Negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, seperti Minyak bumi, emas, batu bara, perak dan tembaga adalah beberapa contoh yan ada. Kekayaan tersebut tersebar dibeberapa wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Seperti yang termaktub dalam pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi bahwa “bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia menjadi sumber utama dalam memenuhi hajat hidup orang banyak, karena itu manajemen kelola yang dibuat oleh Negara dan dilaksanakan oleh pejabat negara harus berorientasi sebesar-besanya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Dengan segala potensi yang dimiliki tersebut, sudah selayaknya juga negara dipimpin oleh pejabat-pejabat yang secara moral baik dan bijaksana, bersikap adil serta berbudi luhur, kesemua itu diperlukan semata-mata demi kelangsungan hidup orang banyak di Republik ini.

Seperti yang diucapkan Plato, seorang filsuf yang hidup sekitar 400 tahun SM, manusia memiliki tiga unsur keutamaan dalam dirinya.

Unsur pertama, yaitu keutamaan Akal (Rasio) atau logistikos adalah manusia dengan keutamaan ini menjadikan Kebijaksanaan sebagai panduan hidupnya. keutamaan ini disimbolkan oleh Plato lewat kepala.

Yang kedua adalah keutamaan kehendak atau thumos. keutamaan Kehendak dalam istilah Plato ini adalah bagi mereka yang melakukan sesuatu didasarkan pada kecintaanya kepada korps atau kelompok/golongan. keutamaan ini dismbolkan oleh Plato dengan dada.

Kemudian yang ketiga keutamaan Nafsu atau Ephitumia. Keutamaan ephitumia merupakan tingkat terendah dari 2 keutamaan sebelumnya. manusia dengan keutamaan ini menjadikan makan, minum dan seks sebagai landasannya berprilaku. disimbolkan dengan perut oleh Plato

Dalam kacamata Sosial, Politik dan Agama, yang cenderung melakukan segala sesuatu atas dominasi rasio adalah seorang filsuf, Ulama dan atau para Negarawan yang memimpin sebuah negara.

Dalam terminologi masyarakat Indonesia seorang pemimpin negara adalah pejabat negara, dimulai dari Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota anggota DPR dan semua jabatan yang berorientasi pada pengabdian dirinya terhadap Bangsa.

Sementara, masyarakat yang melakukan segala sesuatu atas dominasi thumos-nya dengan berani dan penuh kebanggaan adalah seorang prajurit perang, jika di Indonesia adalah seorang TNI dan Polri.

Sedangkan masyarakat yang cenderung didominasi oleh ephitumia adalah seorang warga sipil biasa yang hidupnya dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan dasar makan dan minum serta pemuasan seksual.

berdasarkan pemaparan di atas, maka menurut Plato dengan konsep keutamaan manusianya, pejabat negara adalah manusia yang secara moral mampu mengharmonisasi atau melakukan kontrol diri (self control) atas tiga unsur keutamaan tersebut dalam dirinya, yaitu logistikos, thumos dan ephitumia.

Namun, Jika kita lihat fenomena politik yang terjadi di Indonesia dewasa ini, banyak sekali pejabat negara diamankan oleh Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) akibat perilakunya yang koruptif.

Penangkapan yang dilakukan oleh KPK terhadap pelaku korupsi hampir secara keseluruhan melibatkan oknum pejabat negara baik pejabat pusat ataupun pejabat daerah yang ada di berbagai lembaga negara baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Pejabat negara yang notabene adalah abdi  masyarakat sudah seharusnya mampu mengontrol dirinya untuk bersikap bijaksana, adil dan berbudi luhur, bukan justru sebaliknya masih didominasi oleh keutamaan Ephitumia di dalam dirinya.

Maka bukan suatu hal yang mengejutkan jika pejabat negara (dengan keutamaan ephitumia) di Republik ini, dengan posisi strategis yang dimilikinya tidak melakukan pengabdian secara arif, dan bijaksana serta adil dalam bersikap, tetapi justru menumpuk kekayaan dan kekuasaan.

Fakta diatas membuktikan bahwa telah terjadi tumpang tindih peran dalam masyarakat Indonesia, pejabat negara yang seharusnya sudah berkesadaran Logisthikos, hari ini justru masih di dominasi oleh manusia-manusia Ephitumia. miris bukan !!!

Wallahu a’lam

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: