Humor Filsafat : David Hume dan Orang Gila

David Hume adalah seorang yang dikenal di dunia filsafat sebagai seorang yang kukuh memegang suatu pandangan bahwa segala suatu (yang berkaitan dengan masalah pengetahuan-kebenaran khususnya) harus berdasar atau harus disandarkan pada unsur pengalaman.

prinsip ‘empirisme’ demikian menyebut aliran filsafatnya, diungkapkannya sebagai reaksi atas adanya pandangan yang menitik beratkan ilmu pengetahuan pada peran akal. Demikian fanatiknya kebersandarannya pada peran dunia indera itu sehingga Ia menjadikannya sebagai parameter kebenaran.

Militansinya nampak ketika ia menyatakan menolak hukum kausalitas serta konsep dualisme benar-salah karena dipandangnya hal itu adalah suatu yang tak bisa dibuktikan secara empirik.

padahal sebagaimana bagi kita yang terbiasa menggunakan akal maka hukum kausalitas (prinsip sebab-akibat) adalah sebuah keniscayaan sebagaimana niscayanya ‘logika’ serta ‘rasionalitas’ sebagai konsep yang lahir dari olah fikir akal fikiran.

Bagi kita yang berakal. Hukum sebab-akibat-rasionalitas-konsep dualisme adalah bentuk kebenaran yang bersifat permanen serta mutlak dan hukum kausal-konsep dualisme sebagaimana logika-rasionalitas itu bukan untuk dipermasalahkan atau dibuktikan secara empirik tetapi untuk ditangkap dan difahami oleh akal.

Persis sebagaimana juga misal surga-neraka itu bukan untuk dibuktikan atau dipermasalahkan secara empirik tetapi untuk ditangkap dan lalu difahami oleh akal fikiran ,karena tugas utama akal sebenarnya adalah menangkap yang abstrak-metafisik dibalik yang fisik berbeda dengan tugas indera yang adalah sebatas hanya menangkap yang empirik

Sebab itu jangan pernah mencoba menyodorkan konsep pengadilan Tuhan, sorga-neraka kepadanya betapapun kita membawa se-abreg argument rasional tentang masalah itu sebab yang menjadi parameter bagi David hume adalah bukti empirik-bukan bukti rasional.

Tanpa bukti empirik langsung yang tersaji sebagai pengalaman maka dalam pandangannya sesuatu tidak dapat disebut pengetahuan yang bersifat valid Kalaupun ia dibawa membahas akal maka ia akan memijakkan akal itu ke logika dialektika materialis, Dan kalau akal sudah dipijakkan kesana jangan harap melahirkan konsep konsep berdasar rasionalitas murni tentunya

Hanya sekarang perhatikan orang-orang ini : orang gila,atau yang akalnya sedikit terganggu. merekapun tentunya memiliki dunia panca indera yang sekomplit orang waras dan kalau dunia indera yang menjadi parameter ilmu pengetahuan maka seharusnya orang gila atau yang nyaris gilapun dapat memiliki ilmu pengetahuan sekomplit orang waras, lalu mengapa orang orang gila tak dapat memilikinya?

Hume mengatakan bahwa, semua pengetahuan dimulai dari pengalaman indra sebagai dasar, ia percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indra.

Dan suatu saat ada ‘orang-orang yang iseng’ dan memiliki kepenasaran dengan pandangan Hume tersebut dan karenanya berkeinginan membuat eksperimen berdasar prinsip David hume tersebut.

maka dikumpulkanlah beberapa jenis orang yang gila,yang mereka kategorikan sebagai : yang gila beneran-yang baru setengah gila dan yang baru seperempat gila yang dunia inderawinya masih komplit tentunya untuk memenuhi persyaratan ilmiah sebagaimana yang dikonsepsikan oleh faham empirisme.

Lalu orang orang iseng itu mendesain suatu eksperiment sedemikian rupa agar orang orang gila itu dapat masuk ke suatu dunia pengalaman tertentu yang sengaja disetting berbeda beda untuk kelak dapat mengetest kemampuan mereka dalam menganalisa serta merumuskan apa yang telah mereka alami

Setelah semua orang gila itu dapat dikumpulkan maka dibawalah mereka masuk ke eksperiment dunia pengalaman yang berbeda beda-beraneka ragam itu. Setelah dirasa mereka memiliki unsur pengalaman yang cukup untuk memenuhi syarat memperoleh ilmu pengetahuan maka dipanggillah mereka, lalu ditanyailah mereka satu persatu.

Yang gila beneran ketika ditanyai perihal pengalaman yang telah ia terima maka  ternyata ia hanya tertawa tawa-tersenyum senyum tanpa memberi penjelasan apapun,ia seperti tak memperoleh kesan apapun atau impressi impressi bagaimanapun terhadap apa yang telah ia alami dan apalagi untuk membuat analisa serta lalu membuat rumusan.

Dan lalu giliran yang setengah gila diperiksa,ternyata ia bisa menyebut beberapa pengalaman yang telah ia alami,dan nampak ia memiliki kesan kesan tersendiri atas pengalamannya, tetapi ternyata ia tak bisa menyambungkan pengalaman yang satu dengan pengalaman yang lain alias kurang pandai dalam merangkai prinsip sebab-akibat sehingga semua kesan dan pengalamannya itu seperti potongan puzzle yang tercerai berai-acak acakan.

Dengan kata lain ia tak bisa membuat rumusan-tak bisa membuat penilaian-tak bisa membuat kesimpulan, apalagi misal bila disuruh membuat konsep atau gagasan berdasar pengalaman yang telah ia alami

Nah yang unik adalah yang oleh orang orang iseng itu secara humoristik dikategorikan sebagai ‘seperempat gila’, (karena ia bisa menjadi cermin untuk kita semua yang masih merasa ‘waras’ untuk introspeksi diri atas cara berfikir akal kita).

Maka ia sepertinya memiliki harapan  yang lebih baik untuk memperoleh pengetahuan dibandingkan dengan dua rekannya diatas. ketika ia diminta menceriterakan pengalamannya dan diminta untuk membuat analisa dan lalu membuat rumusan atau kesimpulan berdasar pengalamannya itu maka dengan lancar

Ia menceriterakan semua pengalamannya bahkan hampir mendetail, ia pun memiliki kesan kesan-impressi yang lebih baik, dan ia dapat menganalisa dan lalu menyambungkan potongan potongan pengalamannya menjadi suatu rumusan. Tetapi cara menyambungkannya itulah yang ganjil sehingga bangunan kesimpulan atau rumusan yang ia buat nampak ganjil-aneh alias tak masuk akal.

Ketika ia diuji coba konsep dualisme benar-salah, baik buruk nampak ia pun menguasainya tetapi sayangnya nampaknya gagasan dualisme nya terbalik (!) dimana yang seharusnya dinilai benar malah cenderung dinilai salah dan yang seharusnya dinilai salah malah cenderung dianggap benar.

Ketika ia diuji coba dengan berbagai gagasan lain maka ia dapat mengungkapkannya secara lancar hanya sayangnya gagasannya cenderung nampak ganjil-sulit masuk akal dan nampak terlalu spekulatif karena tidak mempertimbangkan unsur kelogisan.

Contoh, ketika kepadanya disodorkan gagasan konsep pengadilan Tuhan-sorga neraka ia mengatakan bahwa sorga tidak rasional karena tak bisa dibuktikan secara empirik (!) .. padahal jawaban yang seharusnya adalah : sorga tidak empirik karena memang tak bisa dibuktikan secara empirik bukan ‘tidak rasional’ (karena rasionalitas tidak bersandar atau berdasar pada metode empirik tentunya).

Lalu si ‘orang orang iseng’ tadi yang ternyata adalah para mahasiswa jurusan filsafat di sebuah PT melaporkan hasil eksperimentnya itu kepada dosen nya yang mereka kenal sebagai empiristik militant sebagaimana juga David hume dan tidak mau mengalah apabila berdebat dengan para mahasiswanya-selalu kukuh dengan prinsip empiristik nya.

Setelah mendapat laporan demikian dari para mahasiswanya maka keesokan harinya sang dosen filsafat itu tidak masuk mengajar.dan menurut penuturan para tetangganya ia pergi mengasingkan diri kesuatu bukit yang tak jauh dari rumahnya  .. mungkin untuk merenungi ‘temuan’ para muridnya itu …

Dan di kesunyian perbukitan sang dosen nampak seperti tengah merenungi suatu persoalan maha berat dalam kesunyian bukit-bukit diantara rimbun pepohonan dan iringan cicit burung-burung itu nurani sang dosen seperti perlahan mulai terbuka, ia seperti mulai menyadari bahwa betapa tak berartinya dunia indera se sempurna apapun apabila tidak ditopang oleh akal yang sehat.

Ia pun menyayangkan kenapa dulu Hume tidak membuat eksperiment dengan orang gila atau yang levelnya dibawah gila beneran.iapun mulai mengkhawatirkan orang orang disekelilingnya yang apabila diajak berbicara masalah ilmu pengetahuan-kebenaran  selalu dan selalu bicara ‘pengamatan-pengalaman’,keagungan dan keistimewaan akal seperti yang digambarkan kitab suci mulai dilupakan.

Padahal betapa Tuhan berkali kali menyuruh manusia menggunakan akal fikirannya melebihi suruhan menggunakan dunia inderawi. Mereka yang menggunakan pengamatan-pengalaman sebagai parameter menganggap akal hanya bisa dan hanya boleh digunakan untuk menelusur dunia fisik, berbeda dengan prinsip Ilahi yang mengkonsep akal untuk memahami dunia fisik dan sekaligus juga dunia metafisik.

Dari eksperiment dan temuan para mahasiswanya itu minimal sang dosen memperoleh pelajaran bahwa manusia harus mempertimbangkan peran akal dibalik indera yang sesempurna apapun,sebab tanpa akal maka dunia indera itu hanya menangkap dan mengumpulkan kesan kesan yang acak.

Dan di sisi lain sang dosen empiristik itu juga seperti mulai dilanda ketakutan, dan tentu bukan ketakutan bahwa ia termasuk orang gila atau yang setengah gila-karena ia yakin dirinya masih waras, tetapi suatu kecemasan jangan jangan dirinya termasuk seorang yang menurut kategori para mahasiswanya : ‘seperempat gila’ (!).

sumber : https://www.kompasiana.com/ujangbandeung/humor-filsafat-david-hume-dan-orang-gila

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: