Hidup yang Tak Hidup

“Untuk melihat dirimu lima tahun yang akan datang, lihatlah apa yang kamu lakukan saat ini.”

— Mahatma Gandhi

Manusia adalah hewan yang berpikir, begitulah kata mas Aristoteles bapak logika. Menurutnya satu-satunya yang membedakan manusia sebagai makhluk hidup adalah sebuah proses untuk mengolah seluruh informasi (pengetahuan) yang iya cerap lewat panca indera dan menghasilkan buah pikir (pemikiran).

Bukan hanya memahami hidup ini dengan insting saja, kalau hanya dengan insting yang sifatnya bersumber dari hasrat untuk bertahan hidup, manusia tak ubahnya seperti hewan.

Namun, sejauh ini sifat yang ditunjukan manusia modern cenderung menggunakan insting belaka. Kok bisa demikian? Kalau tidak percaya coba kita bisa amati kehidupan manusia modern belakangan ini.

Manusia modern cenderung menunjukan sifat alami (naluriah) dari hewan, hari-hari yang dilalui dihabiskan hanya untuk mengejar harta, dengan kata lain manusia menghabiskan hidupnya untuk ‘kerja’ yang orientasinya semata untuk makan, minum dan berkembang biak.

Belum lagi soal tahta, kita semua tahu, singa jantan untuk  merebut kekuasaan atas koloninya melalui proses pertarungan/perkelahian demi menjadi siraja hutan dan begitu pula dalam merebutkan si singa betina idaman.

Coba kita kaitkan persoalan si singa jantan dengan fenomena yang terjadi belakangan ini. Mungkin telinga kita sudah terlalu bosan dengan pemberitaan kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat publik dari berbagai tingkatan, dari mulai kepala desa hingga kepala daerah.

Kasus korupsi diperparah lagi dengan berbagai fenomena yang terjadi dimasyarakrat, media-media memberitakan peristiwa kejahatan yang diluar nalar kemanusiaan. Motifnya hanya untuk menguasai harta, diri (memerkosa), dendam dll. Manusia terjebak pada naluri kebinatangan secara tidak sadar.

Hal ini juga berimbas pada para mahasiswa. Dengan berpandangan bahwa masa depan adalah segala-galanya, dengan skema sederhana seperti kuliah, wisuda, dapat kerja dan hidup bahagia.

Karena skema ini mahasiswa kehilangan keutamaan-nya sebagai manusia, padahal mahasiswa merupakan kelompok dalam strata sosial yang diharapkan memberikan perubahan pada masyarakat.

Maka jangan heran jika ada mahasiswa juga ikut andil dalam percaturan tindak kriminal. Yah, ini disebabkan oleh orientasi mahasiswa tersebut sebagai manusia hanya menggunakan insting belaka.

Padahal, persoalan skema yang fana inilah sumber segala ketakutan bermula. karena setiap manusia menghasrati  kesempurnaan, hasrat inilah kiranya yang menghasilkan ketakutan.

Rasa takut yang ditimbulkan dari ketakutan-ketakutan karikatural, seperti bagaimana masa depanku nanti, atau bagaimana esok aku akan hidup, adalah fiksi-fiksi yang menghantui kesadaran kita selaku manusia.

kesemua hal tersebut terjadi karena pola pikir yang kurang tepat, ketidaksadaran manusia yang cenderung menggunakan insting inilah penyebabnya. Jadi apakah selama ini manusia hidup dalam ketidaksadaran-nya? Lalu bagaimana merubah pola pikir ini?

Terdapat dua metode untuk mengubah pola pikir kita. Pertama, dengan hidup dalam kesadaran. Yakni kita dalam menjalankan hidup dengan penuh kesadaran, ketika tubuh kita selaras dengan yang ada di pikiran.

Metode kedua adalah yang biasa disebut filsafat timur dengan meditasi. Meditasi berarti melihat kenyataan apa adanya, tanpa ditambahi dengan analisis, konsep, dan penilaian dari kita. Meditasi juga berarti mencerap kenyatan disini dan saat ini apa adanya.

Inti dari kedua metod ini sebenarnya sama, yakni kembali ke saat ini. Sekarang merupakan satu-satunya waktu yang kita punya. Disini merupakan satu-satunya tempat yang bisa kita tempati.

Dengan hidup sepenuhnya disini dan saat ini, kita mampu membentuk pola pikir baru yang menciptakan mutu hidup secara keseluruhan. Maka, pernyataan ini menjadi selaras dengan ungkapan Gandhi “Untuk melihat dirimu lima tahun yang akan datang, lihatlah apa yang kamu lakukan saat ini.”

Here and now” menjadi istilah yang tidak familiar ketimbang istilah “future” yang begitu didambakan setiap manusia di era milenial ini. Dengan melihat seluruh persoalan ini, manusia semakin kehilangan keutamaanya dalam menjalahnkan hidup.

Hidup bahagia “good life” diorientasikan dengan pencarian akan kekayaan dan nama besar. Kehidupan semacam ini senyata-nyatanya tidak bisa menghasilkan kebahagiaan, namun malah menghasilkan sebuah cara hidup  menghalalkan segala cara demi harta, tahta dan wanita.

Kebahagiaan sejatinya dapat diperoleh dengan mengharmonisasi akal, emosi dan nafsu, serta mampu mengaktulisasikan potensi di dalam diri untuk menjadi manusia yang ‘bijak bin adil’ dalam laku keseharian. Tabik

*Penulis adalah mahasiswa semester 8 fakultas Syari’ah UIN Lampung. Penyuka kajian Filsafat dan Humaniora yang sejak kecil tidak bisa lepas dari musik Dangdut dalam kesehariannya.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: