Helin Bolek: Perempuan Pejuang Emansipasi

“Dengan apa yang telah dilakukan olehnya, Bolek mengetuk dan menggugah kesadaran banyak orang, terkhusus para aktivis yang acap kali memekikkan kata perlawanan, tapi di saat bersamaan tidak berani konsisten terhadap prinsip, serta seringkali masih berlindung di bawah ketek kekuasaan”

 

Adakah yang salah dari berita kematian? Bukankah kerap kali kita mendapati sebuah kabar kematian dari orang di sekitar kita, kolega, bahkan keluarga kita sendiri. Bukankah hari ini juga, kita sedang dihadapkan dengan virus corona yang merenggut kematian banyak orang? Sekali lagi, apa yang salah dari sebuah kematian dan memang seperti itulah “hukum besi” kehidupan, bahwa siapa saja yang hidup maka akan menuju kematian.

Namun sebulan lalu, tepatnya 3 April 2020, terdapat sebuah kabar kematian yang berbeda dari kebanyakan orang. Kematian itu menimpa Helin Bolek, seorang aktivis perempuan—tergabung dalam Grub Yorum, salah satu band sayap kiri yang revolusioner di Turki–karena mogok makan selama 288 hari.

Grub Yorum telah bertahun-tahun terlibat dalam musik dan menyanyikan lagu-lagu pembebasan bagi gerakan kaum buruh, para tahanan politik, dan orang-orang yang tertindas sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim yang otoriter dan represifitas militer Turki yang dipimpin oleh Recep Tayyip Erdogan.[1]

Selain itu, dari perjalanan panjang pertentangan kaum buruh dan pemilik alat produksi atau yang lebih dikenal borjuasi, Ia adalah salah satu dari banyak orang yang menentukan keberpihakan kepada kaum buruh melalui lagu-lagu perlawananya, seperti Cav Bella, Halkimizin Gelini, Gel Ki Safaklar Tutussun yang dinyanyikan pada tiap konsernya. Saat menggelar konser publik di Instanbul 2010, melalui band Grub Yorum-nya, Bolek ikut menyanyikan lagu Bella Ciao, sebuah lagu perjuangan bagi kaum buruh di Eropa.

Sejak 2016, Grub Yorum dilarang melakukan konser oleh pihak berwenang atas tuduhan grup tersebut telah berafiliasi dengan Devrimci Halk Kurtuluş Partisi-Cephesi (DHKP-C)— atau Front Pembebasan Rakyat Revolusioner, sebuah kelompok militan Marxis ekstrim yang dianggap sebagai organisasi teroris oleh Turki, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Tak hanya dilarang menggelar konser, para anggota Grub Yorum sejak tahun 2016 pun diburu aparat dan diinapkan di penjara. Sebanyak tiga puluh anggota Grup Yorum telah diamankan, termasuk Helin Bolek dan Ibrahim Gokcek yang ditangkap pada awal tahun 2019. Bolek dan Gokcek pun memutuskan untuk memulai ‘aksi mogok makan’ ketika berada di penjara. Aksi itu mereka lakukan sebagai bentuk protes dan menuntut otoritas Turki agar memberi izin bagi Grup Yorum untuk melanjutkan konser, membebaskannya para anggota band dari penjara, serta mencabut penetapan hukum yang dijatuhi pada kelompok mereka.

Bolek dibebaskan pada akhir 2019, namun ia tetap melanjutkan aksi mogok makan. Pada 11 Maret 2020, Bolek ditangkap lagi oleh pihak kepolisian dan dibawa ke Rumah Sakit. Penangkapan tersebut bertujuan memaksa Bolek untuk makan, dan tentu saja Bolek menolaknya. Selepas itu, ia dibebaskan kembali pada 16 Maret 2020 dan tinggal di rumah perlawanannya hingga tutup usia pada 03 April 2020.

Helin Bolek, seorang aktivis perempuan yang teguh memegang prinsip, bahwa kebenaran harus diperjuangkan terhadap siapa saja, dengan cara apa saja, bahkan konsekuensi perjuangan berupa kematian pun akan ia terima.

Sebagai perempuan, Bolek juga mendobrak stigma yang diungkapkan banyak orang, bahwa perempuan mendapat status sebagai mahluk kelas dua, di bawah posisi laki-laki, sehingga harus tunduk, bungkam, dan pasrah dengan segala perlakuan yang dialami dirinya. Akan  tetapi, perempuan sesungguhnya mampu dan mempunyai hak untuk menyampaikan kebenaran di muka publik, berdiri setara dengan yang para laki-laki seperti yang dilakukan oleh Helin Bolek.

Saat proses tulisan ini dibuat, penulis coba merefleksikan apa yang dilakukan oleh Bolek. Penulis mempertanyakan, sudikah dan beranikah kita, atau orang di sekitar kita dan orang-orang yang selalu memekik kata perlawanan untuk bersungguh-sungguh memegang spirit yang sama seperti yang dilakukan oleh Bolek yang memegang teguh prinsipnya sampai ia dinyatakan mati secara biologis (tidak menurut ideologi).

Dengan apa yang telah dilakukan olehnya, Bolek mengetuk dan menggugah kesadaran banyak orang, terkhusus para aktivis yang acap kali memekikkan kata perlawanan, tapi di saat bersamaan tidak berani konsisten terhadap prinsip, serta seringkali masih berlindung di bawah “ketek kekuasaan”. Bolek patut dijadikan tauladan para aktivis, bahwa komitmen dan konsistensi dalam ‘gerakan’ adalah syarat utama. Hal itu pun telah ia buktikan, dengan tidak berhenti menjalani aksi hingga tuntutanya terpenuhi. Walaupun, kematian mendahului sebelum cita-cita dan tuntutanya terpenuhi.

Dalam perjalanannya menuju ke rumah abadinya, ia pun tak sendiri. Banyak orang turun ke jalan sebagai bentuk berduka dan apreasiasi, serta sebagian di antaranya berkata akan melanjutkan perjuangan yang dilakukan oleh Bolek.

Tulisan ini pun demikian, ditulis sebagai bentuk apresiasi yang besar terhadap Helin Bolek. Semoga jiwamu tenang di alam sana dan spirit perjuanganmu tetap membersamai kami semua.

Tabik

Hari Buruh

[1] https://www.reddit.com/r/news/comments/fxn519/kurdish_singer_helin_bolek_had_died_after_288/

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: