HEGEMONI I

Pagi-pagi sekali Ahmad sudah bangun. Sarapan tak di habiskannya. Ia lebih memilih langsung duduk khusuk di depan meja belajar. Buku gambar dan pensil telah siap. setengah jam kedepan Ahmad sibuk menggambar buah pisang.

ini peristiwa langka. benar Ia suka menggambar. Tetapi masjid dan gedung-gedung bertingkat yang selalu menjadi objek imajinasinya dimanapun itu, di buku gambar, di whiteboard kecil pemberian khusus Ayahnya, bahkan di dinding putih kamar tempat pertama kali eksperimen menggambarnya itu ditemukan.

Ahmad masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar saat ini. Seminggu yang lalu adalah waktu pembagian raport kenaikan kelas. Ia meraih ranking 2 dari 35 murid di kelasnya. Ahmad bersedih.

Ahmad hanya kalah satu mata pelajaran dari rani -temannya yang menjadi juara kelas-, yaitu mata pelajaran menggambar. Bukan karena Rani pandai menggambar, bukan itu. Tetapi karena Rani ‘nurut’ dengan menggambar buah apel saat ulangan, persis seperti yang selalu gurunya ajarkan di kelas.

Semenjak itu, ketertarikan ahmad terhadap masjid dan kubahnya, serta gedung-gedung tinggi; berangsur hilang. Kini ia lebih memilih menggambar buah-buahan. Rupanya ia tak mau lagi kalah oleh temannya.

Setahun berselang, Ahmad tak lagi menggambar buah. Kini ia naek ‘maqom’ menggambar pemandangan –Pegunungan, lengkap dengan dengan sawah serta pohon kelapa ala kadarnya– . bukan karena dia tertarik; aku tahu betul dia tak pernah sama sekali tertarik menggambar pegunungan. Tetapi karena semua teman di kelasnya menggambar pemandangan. Persis seperti yang Ibu Guru anjurkan.

Begitulah Ahmad, keponakanku yang sekarang sudah duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Perlahan-lahan, sekolah telah merenggut kreativitasnya. Ia, begitupun aku atau mungkin juga kalian telah di-Seragam-kan oleh sebuah sistem. Bukan saja fisik, tapi cara pandang dan bersikap kita juga di telah digiring untuk seragam. Bahkan mungkin jg cita-cita ?.

(sukarame, jum’at 26 agustus 2016)

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: