Harmonisasi Sastra-Revolusi

Ada sebuah fase kehidupan dimana kepercayaan ibarat sebuah mitos belaka. Pemulaiannya ditandai saat semua orang telah sibuk dengan pembenaran-pembenaran, saling menyalahkan, dan hujan hujatan.”

masing-masing dari kita kerap berasumsi negatif terhadap sesuatu yang belum teruji kesalahan dan kebenarannya. Hanya karena sebuah anggapan atau prasangka, akhirnya menggiring diantara kita banyak yang bertindak sesuka hati demi meluapkan sebuah ke-ego-an atas dasar ke-fanatik-an.

Tapi itulah Demokrasi. Di mana setiap orang bebas menyalahkan, membenarkan, membela, membenci, mengkritik bahkan menghujat.

Selanjutnya, ketika suara-suara itu mulai dibungkam karena ‘katanya’ bisa ‘membahayakan’, saat itu pula suara-suara tersebut semakin memekik.

Disinilah apa yang kita kenal dengan Sastra, sebuah pemikiran, kritikan, penjabaran, dituangkan dan dituliskan guna menekankan bahwa eksistensi suara tetaplah ada- nyatanya mampu membuat mereka yang berkuasa kelimpungan.

Beragam tulisan diekspresikan dengan berbagai bentuk, dan terkadang kita tidak perlu terlalu frontal agar apa yang dihasilkan oleh olah pikiran tetap tersalurkan ke penjuru dunia.

Ada yang berdiri diatas mimbar-mimbar dengan heroik, menunjuk kan pemikirannya melalui ke-erotis-an sajak-sajaknya, erotis yang saya artikan penelanjangan sebuah pembungkaman.

Mereka berorasi layaknya sedang memainkan pertunjukan opera, dengan penghayatan yang begitu dalam mampu menyihir ketakjuban jutaan pasang mata yang akhirnya akan membawa sebuah revolusi.

Sebuah revolusi yang menggiring jutaan hati nurani untuk ngelurug guna melawan sebuah penindasan. Sebuah revolusi yang akan melahirkan kehidupan yang lebih baik.

Ada juga yang berjibaku dalam sastra yang berbau “jokes” dan sedikit sartir, yang juga tidak kalah pentingnya dalam perjuangan kebebasan. Mereka memelihara idenya sendiri, mereka membesarkan pandangannya sendiri.

Namun berbagai macam sudut pandang dan penilaian dalam sastra tak lain dan tak bukan adalah sebagai sebuah senjata yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu “bersuara”. Tidak peduli betapapun orang-orang mencibir, nyatanya itulah salah satu yang harus diterima ketika “bersuara”.

“Sekedar menulis tanpa aksi apa gunanya?”

Terkadang saya ingin tertawa mendengar komentar-komentar yang demikian.

Bukankah revolusi kaum kiri berawal dari sebuah tulisan?

Bukankah revolusi kaum kanan berawal dari buah pemikiran?

Lalu apa bedanya tulisan dengan buah pemikiran jika keduanya sanggup mempengaruhi aksi massa?

Tulisan-tulisan sangat mampu untuk melahirkan diskusi-diskusi, dari diskusi-diskusi niscaya mampu melahirkan aksi-aksi. Tapi apapun itu, yang menyebabkan sebuah tulisan, adalah keadaan sadar dan waras dimana kita menginginkan sebuah perubahan. Diskusi tercipta karena ada rasa ganjil di dalam diri kita atas realitas, lalu desakan untuk menuntut perubahan menyeruak begitu saja. Aksi massa tercipta karena ingin adanya perubahan.

Apa yang membuatmu menginginkan sebuah perubahan jika tidak dimulai dari pemikiran?

Jika kita semua memiliki satu tujuan yang disebut perubahan, kenapa harus ada cacian, sindiran dan sikap merendahkan?

Bukankah kita terlahir dengan karakter yang berbeda, bukankah kita terlahir dengan sudut pandang yang “berbeda” pula? nyatanya setiap orang mempunyai kemampuannya masing-masing, salah satunya mereka yang akrab dengan sastra.

Ada yang pandai dalam berorasi, ada yang lihai dalam membuat strategi, ada yang teliti dalam mengambil keputusan dan ada pula yang doyan menulis untuk sebuah “pergulatan”. Setiap orang mempunyai perannya masing-masing, setiap orang dapat ikut andil sesuai kemampuannya masing-masing.

Masih banyak orang yang memandang sebelah mata kepada mereka yang menekuni “sastra”, padahal sastra merupakan salah satu karya paling indah atas karunia Tuhan Yang Maha Segalanya.

Tanpa sastra kita tak akan mengenal yang namanya Khalil Gibran, Wiji Thukul, Pramoedya Ananta Toer, dkk. Tanpa sastra tidak akan ada yang namanya wawasan dan pemikiran.

Sajak-sajak itu mulai membentuk sebuah harapan, sajak-sajak itu mulai lantang terdengar, sajak-sajak itu mulai tumbuh dan bergelora. Terdengar sepele namun percayalah dampak yang ditimbulkan akan begitu dahsyat.

Ialah yang biasa kita sebut; Revolusi.

Itulah sastra, sebuah senjata yang tidak mengenal jaman.

Itulah sastra, yang biasa digunakan oleh mereka sebagai senjata, ketika penguasa mulai menginjak kepala.

Wallahul hadi ila shiratin mustaqim

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: