Habibal Qolbie, Intoleransi dan Kekecewaan

Pandangan Habibal Qolbie soal diskusi publik yang dihelat oleh Kelompok Studi Kader (Klasika)  berujung kecewa. Acara dengan tema “Menolak Intoleransi Merawat Kebhinekaan” menurutnya tak sesuai ekspektasi yang ia harapkan. Melalui tulisan yang dimuat di website pojoKlasika.com dirinya menuangkan kegundahan yang sedari semalam menyesakkan kepala dan dadanya. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba meneropong kembali apakah rasa kecewa Habibal Qolbie dilatari oleh acara tersebut atau karena sebab lain?

Toleransi dan Intoleransi

Di kisaran abad ke-14 melalui kakawin karya Mpu Tantular prinsip ‘toleran’ diperkenalkan dalam bahasa sansekerta. Tentu, Mpu Tantular tidak menggunakan kata ‘toleransi’  untuk menunjukkan sebuah sikap saling menghormati dan menghargai  pada individu maupun kelompok masyarakat yang berbeda lagi minor. Mpu Tantular mengenalkan prinsip toleransi dengan istilah “bhineka tunggal ika” yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua.

Bhineka tunggal ika inilah yang selanjutnya menjadi semboyan persatuan bangsa Indonesia. Sekaligus menjadi ruh yang menggerakkan berdirinya bangsa Indonesia, sebuah bangsa yang didirikan atas semua golongan, baik: suku, agama, ras, budaya hingga ideologi untuk dapat hidup berdampingan dan harmonis ditengah perbedaan.

Meskipun terdapat perbedaan, selama ia (individu ataupun kelompok) merupakan bagian dari bangsa Indonesia, di mana pun dan kapan pun tidak boleh diperlukan diskriminatif. Karena konsensus berdirinya negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) telah memberi ruang bagi berbagai macam perbedaan untuk dapat hidup bersama di negara ini.

Namun, dalam negara yang menganut sistem demokrasi munculnya berbagai paham-paham radikal dan intoleran yang cenderung menggerogoti nasionalisme adalah konsekuensi logis dipilihnya sistem demokrasi. Karena dalam prinsip demokrasi salah satunya adalah prinsip kebebasan berpendapat yang telah dijamin haknya oleh negara.

Sebagai ilustrasi misalnya, “Saya bisa saja sangat tidak setuju dengan apa yang diungkapkan oleh Habibal Qolbie tentang rasa kecewanya terkait diskusi publik yang dihelat Klasika. Namun, saya akan perjuangkan sampai mati agar Habibal Qolbie dapat mengungkapkan pikirannya meskipun saya tidak setuju terkait yang diungkapkan olehnya “. Selanjutnya adalah bagaimana Habibal Qolbie dimintai pertanggungjawaban dari apa yang telah ia sampaikan, untuk memberikan penjelasan yang rasional dari apa yang telah ia ungkapkan dan bersedia untuk diuji pernyataan-pernyatannya. Nah dari sinilah masyarakat (publik) menilai mana gagasan yang lebih masuk akal untuk diterapkan pada kehidupan Indonesia hari ini.

Dalam contoh yang lebih konkret lagi misalnya; Dalam pandangan Habibal Qolbie wacana ‘mereduksi’ atau ‘menghilangkan’ paham intoleran  masih sebatas untuk menahan diri dan melahirkan pikiran tandingan yang lebih moderat untuk meng-counter paham-paham intoleran telah dilakukan dari kemarin-kemarin hari yang ujungnya kita hanya akan memperdebatkan soal yang itu-itu saja.

Yang luput dari pandangannya adalah bahwa sistem demokrasi memang memungkinkan hal tersebut terjadi, dimana ruang-ruang publik dipenuhi dengan perdebatan baik soal yang ‘itu-itu saja’ maupun hal yang sangat baru sekalipun. Cara yang paling bijak untuk menangkal paham intoleran adalah dengan membuktikan bahwa paham-paham tersebut keliru dan tidak sesuai untuk diterapkan pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentunya melalui argumentasi wacana tandingan.

Ketimbang menggunakan instrumen negara sebagai sarana untuk membendung paham-paham intoleran dengan resiko menciderai semangat demokrasi dan beresiko pula digunakan oleh negara sebagai alat untuk membungkam suara kritis. Upaya menghabisi paham intoleran secara ‘total’ sama saja artinya menghabisi demokrasi itu sendiri.

Pertanyaan selanjutnya sejauh mana masyarakat Indonesia memiliki kesadaran untuk menilai segala polemik atas perbedaan yang terjadi dengan pertimbangan akal? Nampaknya dalam hal berpikir ilmiah dan masuk akal masih cukup jauh dipraktekkan oleh masyarakat Indonesia. Ihwal bencana alam yang terjadi saja misalnya, masih banyak narasi yang dibangun oleh masyarakat bahwa peristiwa bencana gempa, tsunami, angin puting beliung, longsor dan banjir terjadi karena azab yang diberikan oleh Tuhan, karena pemimpin daerah tersebut mendukung salah satu calon presiden, karena terjadi kriminalisasi terhadap ulama, karena ada simbol mata dajjal di daerah tersebut, dll.

Bila masyarakat Indonesia dapat berpikir ilmiah, tentunya berbagai peristiwa bencana alam yang terjadi tidak ada hubungannya dengan kontestasi politik, proses hukum maupun simbol mata Dajjal. Masyarakat dapat melihat bahwa peristiwa gempa terjadi karena pergeseran lempeng tektonik bumi, peristiwa longsor disebabkan oleh penebangan pohon yang berlebih, tata ruang dll. Bukannya mencari sebab yang tidak ada kaitannya, semisal menghubungkannya pada hal-hal mistis, politik, dan proses hukum.

Klasika, dalam upaya menjaga akal sehat anak-anak muda di provinsi Lampung berupaya menerobos cara berpikir yang demikian. Terlebih dalam survei yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) guru di Indonesia memiliki opini intoleransi dan opini radikal yang cukup tinggi dengan persentase masing-masing sebesar 50,87 persen dan 40,14 persen dari total responden. Ini tentunya berbahaya, lembaga pendidikan formal Indonesia dengan cara mengajar yang melakukan indoktrinasi tanpa pernah mengajak peserta didik untuk berpikir menjadi sebab yang paling mengerikan.

Sehingga berdampak pada perdebatan masyarakat (publik) tentang konsepsi paham toleran dan intoleran seperti yang diungkap diatas akan diisi oleh hujatan, cacian dan fitnah belaka. Tidak ada argumentasi cerdas untuk membuktikan bahwa paham tersebut keliru.

Seperti yang diungkapkan oleh Karlina Supeli dalam ceramah yang ia sampaikan di hadapan para Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dengan judul makalah berpikir ilmiah dan masuk akal. Bahwa masyarakat Indonesia masih didominasi oleh cara berpikir stimulus-respons layaknya anjing pavlov dengan titik tolak  asumsi bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang diinginkan. Cara seperti ini mengedepankan insting (stimulus-respons).

Artinya, dalam cara berpikir stimulus-respons masyarakat Indonesia masih dipengaruhi oleh aspek psikologis pada tingkat cara berpikir yang menyentuh pada tataran keyakinan untuk bertindak, sebatas  demi kepentingan atau demi keselamatan dirinya. Tidak dituntun oleh akal budi,  pelan-pelan masyarakat Indonesia bersikap dan bertindak bukan karena kita mengetahui bahwa hal tersebut baik dan layak untuk dilakukan, sekiranya hal inilah yang terjadi dengan dunia pendidikan kita hari ini.

Sebagai seorang pengajar di perguruan tinggi seharusnya Habibal Qolbie meng-insafi hal ini (lihat keterangan penulis) bahwa akar terjadinya masalah debat yang ‘itu-itu saja’, ‘pelaku yang itu-itu saja’ dengan konten fitnah, hujatan dan kebencian ditengarai oleh sistem pendidikan, yang dirinya pun menjadi bagian didalamnya.

Sebagai lembaga yang menghadirkan pendidikan alternatif, Klasika berupaya mengikis cara berpikir stimulus-respons. Salah satunya melalui diskusi publik dengan cara berdialog, terlepas masih banyak tantangan dan masalah yang terjadi dalam acara tersebut akan dijadikan evaluasi untuk membenahi pola kaderisasi demi merawat akal sehat para pemuda di provinsi Lampung.

Dalam hemat saya rasa kecewa yang diderita oleh Habibal Qolbie bukan pula disebabkan oleh acara yang digelar Klasika. Perlu dijadikan pertimbangan pula bahwa rasa kecewa yang diderita oleh Habibal Qolbie dikarenakan dirinya terserang sindrome demensia, sindrom yang menjangkiti seseorang  bila dirinya menjadi jomblo seumur hidup. Karena memang sindrom ini cukup berbahaya yang dapat menyerang kemampuan fungsi otak . Seperti: berkurangnya daya ingat, menurunnya kemampuan berpikir, memahami sesuatu, melakukan pertimbangan, memahami bahasa, serta menurunnya kecerdasan mental. Hal ini menjadi  resiko yang membebani dirinya, karena takut ditinggalkan oleh sang kekasih sebab membatalkan jadwal kencannya minggu kemarin.

Sekian.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: