Gus Dur, Janis Joplin, dan Musik Blues

 “Saya menyukai musik dan lagu-lagunya, sisi positifnya. JJ adalah seorang yang humanis, kalo untuk hal negatif seperti pemabokan, itu adalah urusan pribadinya dengan Yang Maha Kuasa”

KH. Abdurrahman Wahid

 

Oleh Frisca Dacosta

Kali ini postingan saya sedikit berbeda, karena menampilkan foto Alm. KH. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur dan foto mendiang Janis Joplin, sang ratu blues rocker pada era Flower Generations. Memang, sosok Alm. Gus Dur selama ini lebih dikenal sebagai ulama, bahkan beliau juga sempat menjadi Presiden RI ke-4, dan mungkin terkesan agak ganjil kalau saya menampilkan foto beliau yang disandingkan dengan foto Janis Joplin yang terkesan liar, alcoholic, dan identik sebagai konsumen drug.

Untuk hal itu, saya akan jelaskan secara singkat sebagai berikut: Sosok Gus Dur yang dikenal publik di negeri ini sebagai salah satu ulama dan berasal dari keluarga santri ini, pada masa remajanya sempat mendalami musik dan spesifikasinya adalah: resital piano. Saat memasuki masa dewasa, hal itu terus berlanjut tanpa meninggalkan pendidikannya di bidang studi Agama Islam.

Kecintaan beliau pada bidang seni tak hanya berkutat di bidang musik saja, tapi juga pada bidang sastra. Beliau menyukai puisi-puisi karya Rumi, Kafka, Chekov, dan banyak penyair dunia lainnya. Menurut beliau, musik yang sangat berkaitan dengan puisi-puisi karya penyair favoritnya adalah blues. Di era 1960an, beliau terpikat pada penampilan seorang Female Singer Blues yang membawakan lagu-lagu blues yang di-mix dengan rock. Isi lirik lagu-lagunya pun penuh dengan pesan tentang Humanisme. Anti War dan Anti Rassis. Female singer tersebut adalah JANIS JOPLIN.

Cukup banyak Gus Dur hapal lirik lagu-lagu dari Janis Joplin. Salah satu Lagu Janis Joplin yang menjadi favorit Gus Dur adalah Piece of My Heart. Selain mengagumi Janis Joplin, Gus Dur juga mengagumi permainan keyboard dari John Lord (Deep Purple) dan Keith Emerson (ELP). Ini bisa dimaklumi karena latar belakang Gus Dur adalah pianis resital. Satu catatan lagi, pada tahun 1981 hingga 1984 Gus Dur menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta atau DKJ dan berkantor di area PKJ TIM, Jln. Cikini Raya 73, Jakarta. Saat sudah tak menjabat sebagai ketua DKJ dan terpilih sebagai Ketua Umum PB Nadhlatul Ulama (NU) melalui Muktamar, Gus Dur tetap menjalin hubungan baik dengan para seniman.

Salah satu kawan saya pernah bertanya pada Gus Dur sebagai berikut: “Mengapa Gus begitu menyukai Lagu-lagu Janis Joplin, bukankah Janis Joplin adalah seorang penyalahguna narkotic?” Gus Dur pun menjawab: “Saya menyukai musik dan lagu-lagunya, sisi positifnya. JJ adalah seorang yang humanis, kalo untuk hal negatif seperti pemabokan, itu adalah urusan pribadinya dengan Yang Maha Kuasa. Saya ini mengagumi karyanya, karena itu tanyakanlah tentang eksistensi Janis Joplin dalam berkesenian, jangan hal yang di luar itu.” Itulah sedikit ulasan tentang seorang Gus Dur yang selain ulama, juga merupakan seorang yang menyukai Rock and Blues music.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: