Beranda Ide Agama Filsafat dan Peran Intelektual

Filsafat dan Peran Intelektual

265
0
BERBAGI

Bandar Lampung (10/03/19). Selepas Ashar, Daniel Zuchron selaku Wakil Ketua Lakpesdam PBNU ditemani dengan Ketua Bawaslu Prov. Lampung, Fatikhatul Khoiriyah menyempatkan hadir di Rumah Ideologi KLASIKA dalam agenda dialoKlasika—Diskusi Filsafat. Pertemuan tersebut digagas guna membincang soal filsafat dan peran intelektual.

Dalam diskusi yang dihadiri oleh 50 kader KLASIKA, Bang Daniel menyampaikan bahwa, filsafat merupakan sebuah kebijaksanaan (wisdom). Filsafat sudah menjadi pembahasan sejak dulu, mulai dari para pemikir Yunani kuno terus berkembang hingga postmodern, juga post-truth. Namun, secara garis besar filsafat dapat dibagi menjadi dua cabang ilmu pengetahuan yaitu teoritis dan praktis.

“Filsafat terbagi menjadi dua, yaitu pengetahuan teoritis dan praktis. Pengetahuan teoritis terbagi lagi menjadi tiga cabang yaitu matematika, fisika, dan metafisika. Kemudian pengetahuan praktis juga terbagi menjadi tiga; ekonomi, politik, dan etika.”

Sembari membuat bagan tentang perkembangan filsafat, dosen  lulusan S2 Program Filsafat Islam di ICAS-Universitas Paramadina ini, juga menjelaskan bahwa pengetahuan tersebut haruslah memberikan efek bagi masyarakat.

Dalam Pengetahuan praktis—lanjutnya, pengetahuan-pengetahuan yang ada akan mewujud menjadi sebuah buku yang menggambarkan tentang realitas yang diberi makna, dan selanjutnya akan menjadi sebuah ideologi. Dari ideologi itu, kemudian proses kampanye-kampanye mulai digencarkan.

Proses ideologi inilah yang seharusnya diperankan oleh kaum intelektual. Dimana pengetahuan yang dimiliki oleh seorang intelektual harus memberikan efek di tengah masyarakat.

“Satu hal yang membedakan kaum intelektual atau kaum akademik dengan seseorang yang tidak bersekolah yaitu tulisan. Kaum intelektual dinilai dari tulisannya.” ujar Bang Daniel menegaskan peran Intelektual.

Sembari membakar sebatang rokok sampoerna, Bang Daniel pun menanggapi berbagai pertanyaan yang diajukan oleh kader-kader KLASIKA, salah satunya terkait kegelisahan dalam lingkup akademik khususnya kampus yang saat ini tidak lagi mementingkan efek dari ilmu pengetahuan bagi kemajuan masyakarat.

“Akademik telah mengalami kegagalan dalam memaknai bid’ah di tengah masyarakat. Dalam hal sosiologis, seperti ketika masyarakat petani yang membuat sebuah paguyuban, kemudian dalam paguyuban tersebut muncul sebuah upacara atau renak-renik. Itu merupakan sebuah hal yang baru, dan hal itu berjalan saja secara alamiah.” papar Bang Daniel.

Lanjutnya, ia menegaskan bahwa masyarakat merupakan suatu yang unik dan setiap hal “yang  baru” tersebut haruslah ditanggapi dengan bijak. Dengan mengutip kaidah fikih Al-muhafazah Alal Qadimish Shalih wal Akhzu bil Jadidil Aslah, Bang Daniel memaparkan bahwa kasus “yang baru”, jangan menjadi faktor penghambat bagi peran-peran intelektual dalam menerapkan pengetahuannya di tengah masyarakat.

Ditemani lirih azan Isya yang terdengar dari kejauhan, Daniel Zuchron pun memberikan closing statement, kemudian ditutup dengan sesi pembekuan atau sesi foto bersama dengan para peserta disuksi filsafat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here