Dialetika: Sebuah Bangsa dan Kehancurannya

Pada hakikatnya seorang manusia haruslah memiliki rasa kepedulian terhadap sesama manusia, siapapun itu, tidak memandang hal yang lain. Namun faktanya sebagian besar dari kita hanya mempunyai rasa peduli tanpa memberikan sumbangsih secara nyata. Kebanyakan dari kita hanya bisa berujar namun tidak disertai dengan aksi nyata. Atau jika lebih melihat hal yang sederhana, kebanyakan dari kita hanya bisa mengkritik tanpa memberikan sebuah solusi atau jalan keluar.

Alasannya so simple, “apakah solusi dari kita akan didengar oleh penguasa??”. Nyatanya kita tengah bergulat di dalam media sosial, media di mana setiap orang bebas mengekspresikan dirinya, media di mana orang bisa membuat akun anonim untuk menuangkan bakat atau kreatifitasnya, media di mana semua orang bisa membuat akun anonim hanya untuk menghujat orang lain atau yang lebih parah yaitu memanfaatkan media sosial sebagai jalan pemuas nafsunya.

Dalam perkembangan teknologi yang semakin modern dan pemanfaatan media sosial sebagai sarana untuk menyuarakan apa yang ada dalam pikiran faktanya justru menjadi sarana atau alat untuk menebarkan kebencian, menebarkan rasa takut hingga membuat konten hoax yang setiap individu mempunyai tujuannya masing-masing. Media sosial seringkali digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk membuat keributan. Dampak yang ditimbulkan oleh pembuat konten semacam itu jelas sangat merugikan dan yang terkena imbasnya adalah seluruh pengguna media sosial. Salah satu akibat dari perbuatan negatif di media sosial adalah dengan disahkannya UU ITE, pembentukan Badan Siber Nasional dan disahkannya Perpu Ormas yang sebenarnya menyasar kaum intoleran namun yang terkena dampaknya juga kaum atau ormas yang lain.

Persepsi bahwa demokrasi yang ada di Indonesia perlahan mati bukanlah isapan jempol belaka. Semuanya menanggung dampak yang ditimbulkan oleh kaum intoleran, jika hal ini terus saja berlanjut, bukan tidak mungkin negara kita akan kembali pada masa otoriter jilid 2.

Mereka yang pro terhadap pemerintah mungkin tidak akan ambil pusing dengan segala pembatasan yang ada. Namun bagaimana dengan mereka yang kontra terhadap pemerintah? Kemana mereka akan menyuarakan aspirasinya, kritikannya, menyalurkan solusinya kepada pemerintah. Pembatasan demi pembatasan bukan tidak mungkin akan semakin ada ketika Jokowi kembali terpilih menjadi presiden untuk yang kedua kalinya. Bukan maksud untuk menyuruh “jangan pilih Jokowi”, tapi lebih menekankan

bagaimana caranya meminimalisir kaum intoleran agar semua masyarakat atau ormas tidak mendapatkan dampak yang ditimbulkan oleh kaum intoleran tersebut.

“Untuk mengubah keadaan sebuah bangsa yang pernah mengalami masa otoriter adalah dengan merubah “basic structure” terlebih dahulu. Pola pikir masayarakat yang serba instan, hedonis, konsumtif, dll harus diubah terlebih dahulu. Ibaratnya sebuah komputer yang mengalami masalah, maka harus di-recovery atau disetel ulang [jika dalam smartphone ada istilah; reset factory]. Karakter dan pemikiran tiap orang memang berbeda-beda, tapi itu tidak menjadi alasan untuk menyelaraskan pemikiran masyarakat kita. Jika sebuah kesadaran guna menghadapi sebuah persoalan sudah terbangun, bukan tidak mungkin bagi negara ini untuk bangkit kembali. Bangkit sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh para founding fathers kita.”

Namun membangun sebuah kesadaran tidaklah mudah, terlebih ada bermacam persepsi yang melatarbelakangi kesadaran seseorang akan sesuatu. Salah satu hal tersulit untuk membangun kesadaran adalah karena adanya sebuah sesat fikir atau logical fallacy yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Menurut saya Aristoteles yang menyusun katalog sesat pikir lah yang pertama kali telah membuktikan bahwa penalaran yang buruk mematuhi pola-pola tertentu, dengan itu dikembangkan klasifiaksi sesat pikir lebih lanjut. Namun perlu dipahami bahwa tidak ada definisi yang akurat untuk memberi batasan bagi sesat pikir, dengan demikian tidak ada klasifikasi sesat pikir yang bisa diterima secara universal. Berikut ini merupakan kesalahan-kesalahan logika yang saya kutip dari buku Post Madilog karya KIH. Ashad Kusuma Djaya:

  1. Fallacies of Relevance, sesat pikir ini terjadi karena premis-premis suatu argumen tidak berkaitan dengan kesimpulannya
  2. Argumentum Ad Hominem, dalam tipe ini berusaha mendeskriditkan suatu klaim dengan menyerang para pendukungnya, bukan menyediakan pengujian rasional atas klaim tersebut.
  3. Straw Man Argument, sesat pikir ini berusaha menyangkal suatu pendapat dengan menghadirkan pernyataan baru yang mirip dengan apa yang akan disangkal namun pernyataan baru tersebut memiliki argumentasi yang lebih lemah dengan pernyataan yang asli.
  4. Hasty Generalization, sesat pikir ini dilakukan dengan mengambil kesimpulan yang sesungguhnya tidak bisa mewakili atau kurang representatif untuk sebuah penyimpulan.
  5. Argumentum Ad Baculum, sesat pikir ini berusaha membangun kesimpulan lewat ancaman atau intimidasi.
  6. Argumentum Ad Verecundiam, sesat pikir ini terjadi ketika penerimaan atau penolakan terhadap suatu pernyataan hanya karena prestise, status kehormatan yang dimiliki berhadapan dengan para pendukung atau penentang pernyataan tersebut.
  7. Argumentum Ad Populum, terjadi karena suatu kesimpulan dibenarkan hanya karena banyaknya orang yang mendukungnya.
  8. Argumentum Ad Misericordium, terjadi karena adanya pembenaran sebuah pernyataan yang didorong rasa kasihan atau pemakluman.
  9. Appeal to Duty, sesat pikir ini berangkat dari kesalahan penggunaan kata “seharusnya” atau semacamnya.
  10. Argument From Ignorance, terjadi ketika diyakini kalau sesuatu itu benar hanya karena belum terbukti keliru atau ia keliru karena belum terbukti benar.
  11. Fallacy of Minimization, muncul karena dalam berargumen dilakukan dengan membesarkan atau mengecilkan suatu hal.
  12. Ignoratio Elenchi, terjadi karena penarikan kesimpulan dari berbagai premis dalam argumentasi dilakukan berbeda dengan yang seharusnya.
  13. Fallacy of Labeling, terjadi karena adanya pelebelan yang tidak tepat.
  14. Circural Reasoning, terjadi karena seseorang menalar dengan berputar-putar pada pertanyaan tanpa menyajikan jawaban, dan dalam kesimpulannya terkandung asumsi yang berkaitan dengan premis dalam argumentasinya.
  15. Fallacy of Equivocation, terjadi karena menggunakan kata yang sama dengan makna yang berbeda.
  16. Fallacy of Amphiboly, kesalahan logika ini terjadi akibat salah satu penggunaan kalimat yang bermakna ambigu.
  17. Fallacy of Garden path, adalah cara berfikir yang didalamnya seseorang meniti suatu jalan untuk meyakini sesuatu, namun ia sadar sudah keliru.
  18. False Cause, terjadi akibat menghubungkan dua hal yang sesungguhnya tidak ada hubungannya, lalu dianggap hubungan sebab akibat.
  19. Faulty Analogy, terjadi karena suatu kemiripan kecil atau tidak relevan dianggap layak dan relevan untuk menjadi bahan menyamakan.
  20. Gambler’s Fallacy, terjadi karena memasukan unsur kemungkinan yang belum jelas seakan-akan sebagai kenyataan.

Sudah saya katakan di atas, bahwa untuk membangun kesadaran tidaklah mudah. Banyak sebagian dari kita yang memiliki sesat pikir sehingga untuk menuju perubahan terasa akan sangat sulit. Terlebih jika sebagian besar dari kita terjebak ke dalam propaganda.

Tingkat pendidikan tidak menjamin orang itu akan menjadi pintar atau bodoh. Buktinya banyak diantara kita yang menempuh jenjang pendidikan tinggi namun akan menjadi bodoh ketika sudah kemasukan doktrin yang bisa merusak akalnya. Itulah sebabnya kenapa sumber daya manusia di negara kita kalah jauh dari negara lain, karena kebanyakan dari kita mempunyai sesat pikir.Dan itulah yang diinginkan oleh negara-negara kapitalis guna merampok kekayaan alam kita, dengan membodohi generasi muda, dengan merusak moral generasi muda maka akan runtuhlah sebuah bangsa. Percayalah, negara kita tidak akan menuju ke arah yang lebih baik jika tidak merubah “basic structure” masyarakatnya.

Wallahul hadi ilsa Shirathin Mustaqim

Wallahul muwafieq ilas aqwamith thariq

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: