Syekh Mukhlisin: Dari Social Distancing ke Self-Distancing

Sejak corona mewabah dan social distancing mulai sangat dianjurkan, kemana-mana Syekh Mukhlisin selalu membawa cermin. Bahkan saat kami berbincang pun ia, bukan saja membawa, tapi sambil bercermin. Tentu saja kami risih. Di sela diskusi sore tadi, soal pengaruh kumis kucing dalam relasi ekonomi-politik manusia urban, Moh Stamper tak henti menggerutu, “Sok kecakepan, narsis kok sampe tua,” bisiknya ke Iwan Ngces mengomentari lagak Syekh Mukhlisin yang terus-terusan bercermin. Iwan memang tak merespon. Tapi, dari lirikan matanya aku bisa tahu ia nampaknya mengamini gerutuan Stamper.

Sudah lebih dua jam kami berbincang. Kopi sudah dua kali nambah. Turbo, kucing pejal jelmaan paku payung yang pada kehidupan sebelumnya mendapat pencerahan, sudah empat kali mencret di sekitaran kaki kami. Tapi, Syekh Mukhlisin tak sedetik pun mengalihkan pandangan dari cermin. Ia tetap dengan tangkas berbaku-jawab dengan kami, meski sepanjang diskusi, ia sesungguhnya hanya menatap bayangan wajahnya sendiri. Mungkin karena tak tahan, Stamper akhirnya menggugat, “Lagi ngapain sih, Bung? Malu dong! Sudah tua kok demen banget mengagumi bayangan sendiri! Ngaca dong!”

“Lho, aku kan memang sedang ngaca! Lihat gak?” Ujar Syekh Mukhlisin.

“Lha, iya. Tapi maksudku ngapain sih terus-terusan memperhatikan wajahmu sendiri kayak begitu. Takut kehilangan muka ya! Kan kita lagi ngobrol. Jangan salah tafsir soal social distancing dong, masak yang kaya begitu aja nggak ngerti,” gerutu Moh Stamper. Iwan mengiyakan. Aku mengangguk setuju. Sutopo kelepasan kentut.

Justru kalian yang terlalu dangkal menyimak fenomena sekarang ini. Apa yang kulakukan justru memperdalam makna dari sosial distancing tersebut!” Bentak Syekh Mukhlisin. Kali ini ia memalingkan wajahnya ke arah kami. “Melalui cermin, aku tak hanya melakukan social distancing, namun juga self-distancing

Penjarakkan sosial kan jadi semacam peluang yang diberikan alam biar kita melakukan penjarakkan yang jauh lebih dalam lagi, yaitu ke diri kita. Atau sebenarnya–penjarakkan terhadap yang selama ini kita anggap diri kita. Terus ngapain dong kita di rumah? Cuma internetan? ngelamun dan mengutuk-ngutuki keadaan yang melokdon mata pencaharian kita? Makan dan ngemil terus-menerus? Berkumur atau mandi junub dengan disinfektan? Kan nggak. Social distancing kan bisa kita tafsirkan sebagai titik tolak untuk melakukan, apa yang tadi kau bilang, Stamper, “ngaca”.

Ngaca itu kan maksudnya self-distancing. Refleksi. Memantulkan sekaligus membaca kembali niat-niat kita, memeriksa kembali nalar dan orientasi hidup kita. Memeriksa dan menata kembali cita-cita, mimpi, atau harapan-harapan kita. Memeriksa kembali titik koordinat positioning peran ‘keintelektualan dan ke-budayawan-an’ kita di medan peradaban yang sangat hobi melakukan kultus dan takhayul ekonomi serta politik dinasti di atas segalanya ini.

Coba kalian simak pake otak: yang nyalon bupati atau walikota saja harus keluarga dekat, anak atau bini, pejabat-pejabat sebelumnya, dan kita support pula, kan ngawur blas etika politik kita ini. Emangnya gak ada manusia yang pinter dan baik lagi apa di republik ini!

Apakah selama ini kita sudah sungguh-sungguh mengupayakan ‘kebenaran dan kebaikan’ dalam setiap tindak laku kita? Atau kita masih seumur-umur berlumut nilai ‘untung-rugi’ dan ‘kalah-menang’ semata? Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengupayakan keindahan pada diri, karya, atau lingkungan kita? Atau justru kita selama ini cuma menjadikan keindahan sebagai komoditas bagi kepentingan material, eksibisionism, dan narsisitik belaka.

Apakah selama ini kita sungguh-sungguh hendak memajukan kebudayaan lokal, buah dari kultur komunal? Atau jangan-jangan kita cuma memperalat budaya lokal, yang berada di wilayah sosial-komunal itu, bagi kepentingan personal belaka? Kita berlagak pahlawan budaya padahal kita sesungguhnya parasit dan joki bagi kuda yang bernama kebudayaan! Atau kalau kamu aparatur pemerintahan–sudah mampukah kamu menjadi penyelenggara yang adil dan berimbang mengelola nilai-nilai dan tidak menundukkannnya kepada kepentingan nilai ekonomis dan politis belaka?

Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itulah makanya aku ke mana-mana membawa cermin. Biar gua bisa ngaca! Sudah bener belom muka dan otak gua ini! Paham! Nah, bagaimana mau bisa ngaca kalau kau gak punya cermin. Itu pun tetep tak bisa kau lakukan kalau cerminnya kau tempelkan lekat ke mukamu yang kayak buah sirsak itu. Ngaca itu kan perlu jarak itulah self-distancing. Paham!” terang Syekh Mukhlisin menggebu-gebu.

Kemudian ia kembali memandangi wajahnya di cermin. Kami diam.

Di jurang hati paling dalam kami membenarkan. “Berarti, mulai nanti malam, kami juga harus mulai bawa cermin untuk melakukan self …apa itu tadi, Syekh?’ Kata Iwan. “belum waktunya. Kalian belajar bawa otak aja dulu. Dan dji sam soe kalau main ke rumahku.”

Sumber: Facebook- Ari Pahala Hutabarat

 

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: