Covid-19: Mencari ‘Wajah’ di Tengah Pandemi

Oleh: Umar Robani

 

Novel Corona virus kini menjadi topik utama di setiap media massa. Bahkan keteneranannya menyaingi duo srigala. Bagaimana tidak, melansir dari website WHO, Rabu, 25 Maret 2020, tercatat ada 375.498 orang terinfeksi virus Covid-19. Dari jumlah tersebut, 16.362 diantaranya dinyatakan meninggal dunia.

Virus yang telah dinyatakan sebagai pandemi itu pertama kali muncul di Wuhan, China pada Desember 2019 silam. Namun, kini telah menyebar 196 negara di dunia.

Untuk menghindari penyebaran setiap orang di setiap negara menerapkan social distancing bahkan sejumlah negara menyatakan lockdown. Hal itu dibangun atas prinsip kebersamaan. Setiap orang diminta untuk tidak melakukan kontak fisik dengan yang lain agar tak menularkan virus. Bahkan, Arab Saudi menutup akses masuk dan membatalkan kegiatan umroh.

Tindakan-tindakan itu bukan akibat korona semata. Tapi hal tersebut guna melindungi setiap individu untuk kepentingan bersama. Itulah sosialisme. Semua akan sosialisme pada waktunya, kecuali Indonesia.

Disaat negara lain bersiaga menghadapi korona, Indonesia, sebuah negara kepulauan di asia tenggara justru malah mengundang Covid-19 untuk datang. Saya sebut mengundang karena saat jumlah korban di China dan negara sekitarnya meningkat, Indonesia malah mengundang wisatawan asing dengan memberikan diskon paket pariwisata.

Tidak sampai di situ, terjadi panic buying di sejumlah kota, khususnya wilayah DKI Jakarta. Akibatnya sejumlah kebutuhan khususnya alat pelindung diri (masker, handsanitizer, handwash) ludes di pasaran dalam waktu singkat.

Peristiwa itu juga disusul dengan penimbunan sejumlah barang pokok dan alat pengamanan diri (APD). Hal itu memicu terjadi kelangkaan dan kenaikan harga. Akibatnya banyak masyarakat yang tidak menggunakan APD termasuk petugas medis.

Rentetan peristiwa itu seolah-olah menunjukan tidak ada relasi etis di masyarakat. Semua orang merasa tidak memiliki tanggung jawab atas orang lain. Masyarakat terjebak dengan individualistik dan ketakutan kehilangan rasa aman.

Emmanuel Levinas dalam buku Enigma Wajah Orang Lain menyebutkan setiap individu memiliki relasi etis. Relasi itu membuat setiap orang memiliki tanggung jawab atas orang lain. Menurutnya tanggung jawab itu sudah tertanam di dasar diri manusia jauh sebelum manusia memiliki kesadaran.

Kesadaran tanggung jawab itu, menurut Levinas muncul ketika terjadi pertemuan langsung antar wajah. Pertemuan wajah yang dimaksud adalah pengakuan terhadap keberadaan yang lain. Setiap individu memiliki kecenderungan menyerap segala hal di luar dirinya untuk menjadi bagian dirinya. Hal itu disebut Emmanuel Levinas sebagai totalitas, dari situlah kesadaran tanggung jawab itu muncul.

Lalu kenapa tanggung jawab itu tidak muncul pada masyarakat Indonesia? Karena pemerintah dan masyarakat tidak menjadikan Indonesia sebagai sebuah pertemuan wajah yang menuntut tanggung jawab.

Tahun ini Indonesia akan merayakan ulang tahun yang ke 75 tahun. Jika dikenakan pada manusia, itu adalah usia tua yang cenderung bijak dalam menanggapi persoalan. Pada konteks negara, harusnya individu dalam masyarakat di dalamnya sudah memiliki pengakuan dan tanggung terhadap yang lain di luar dirinya.

Harusnya 270 juta orang dari sabang sampai merauke ini bisa menjadikan Indonesia sebagai sebuah pertemuan wajah.

Tabik.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: