Corona dan Upaya Hidup Bersama

Dalam upaya melawan virus corona, sebaiknya prinsip kebersamaan, kepedulian, dan kasih sayang terhadap yang lain, perlu kita kedepankan.

 

Oleh : Ahmad Mufid.

Covid-19 atau lebih populer dengan virus corona sudah ditetapkan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) Atau organisasi kesehatan dunia pada tanggal 11 Maret 2020. Pendemi adalah level tertinggi untuk darurat kesehatan global dan menunjukkan bahwa wabah yang meluas ini mempengaruhi banyak wilayah di dunia (menyebar secara internasional). Hingga rabu, 18 Maret 2020, sebanyak 152 negara telah mengonfirmasi terjangkit virus corona.

Informasi terkait munculnya pasien Covid-19 di Indonesia diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan pada Senin, 2 Maret 2020. Update terbaru, Kamis 19 Maret 2020, ada 311 orang positif corona, 25 orang meninggal, dan 15 orang dinyatakan sembuh.

Sejak diumumkan awal maret lalu, virus corona telah menjadi perhatian serius masyarakat dan menyebabkan ketakutan di tengah masyarakat akan penyebaran virus tersebut. Ketakutan dan kepanikan masyarakat tercermin dari perilaku masyarakat dengan memborong barang atau kebutuhan pokok terkait virus tersebut, seperti masker dan hand sanitizer hingga menyebabkan kekosongan stok barang. Selain itu, yang lebih memprihatinkan lagi adalah ketika barang stok kosong, para pemborong tersebut justru menjual kembali dengan harga yang jauh lebih mahal. Hal itu merupakan perilaku tak manusiawi.

Kondisi di atas tentu membuat kita miris, di tengah upaya bersama untuk melawan virus tersebut, ada saja oknum yang dengan sengaja memanfaatkan situasi dengan mencari untung dan tidak peduli dengan yang lain. Melihat fakta tersebut, mungkin benar apa yang dituliskan Aming (komedian Indonesia) dalam akun instagramnya, “Pada akhirnya bukan corona yang membunuh kita, tapi saudara sendiri, yang punya duitlahh!!! Berbondong-bondong, ngeborong sampai stok kosong!” Miris memang, tapi itu satu fakta yang harus kita terima, rendahnya rasa kepedulian terhadap yang lain.

Masyarakat Indonesia pada umumnya adalah manusia yang beragama. Tentu perilaku di atas berbanding terbalik dan tidak mencerminkan bahwa kita adalah masyarakat yang beragama. Dalam masyarakat sosial tentunya agama memiliki konsep-konsep dasar mengenai kekeluargaan dan kemasyarakatan. Konsep dasar tersebut memberikan gambaran tentang ajaran-ajaran agama mengenai hubungan manusia dengan manusia. Sebagai contoh, setiap ajaran agama mengajarkan tolong-menolong terhadap sesama manusia. Sayangnya hari ini, di tengah kekacauan massa akibat virus corona ini, agama justru menjadi alat pemecah belah. Itu terlihat dari narasi-narasi yang dibangun oleh beberapa pihak dengan tidak bermaksud untuk saling menguatkan satu sama lain.

Berbagai narasi agama dipakai oleh beberapa oknum bukan dalam usaha menguatkan sesama manusia (masyarakat) dalam menghadapi persoalan corona, Misalnya, narasi bahwa virus corona adalah “Tentara Allah” yang dihembuskan oleh salah satu pendakwah tenar, tentu langsung menancap dalam ingatan masyarakat, termasuk narasi lainnya seperti “Azab Allah” dan lain-lain.

Tanpa disadari, hal tersebut tentu akan berimbas munculnya sebuah narasi kebencian terhadap orang lain, kelompok lain dan dapat menyebabkan perilaku kasar (Dehumanisasi) pada orang lain yang dianggap bagian dari kelompok yang dimaksud.

Sikap tidak peduli terhadap orang lain tentunya akan berimbas pada tidak terwujudnya masyarakat yang solider. Pada akhirnya, relasi antar manusia direduksi lewat batasan kelompok, agama, ras, kaum dan lain-lain, walau umat manusia atau masyarakat sedang menghadapi krisis. Rasa kemanusiaan dan kebersamaan memang menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua.

Membangun narasi kebersamaan memang tak semudah melafalkan Bhineka Tunggal Ika. Namun, itu bukan alasan untuk kita berhenti dan menyerah dalam upaya membangun narasi kebersamaan dan kemanusiaan. Dalam falsafah Jawa, ada petuah hidup yang bisa kita pinjam atau gunakan sebagai upaya refleksi bersama, yaitu hidup dengan prinsip saling asah-asih-asuh. Asah yang berarti belajar, asuh yang berarti peduli, asih yang berarti menyayangi.

Menurut ajaran ini, dengan adanya perbedaan (yang lain atau orang lain) maka kita dapat saling asah (belajar), asuh (perduli) dan asih (menyayangi). Dengan kata lain, kita memiliki peluang untuk saling belajar satu dengan yang lain, saling perduli, dan saling menyayangi.

Ajaran asah, asuh, asih dapat menghindarkan orang saling membenci, saling bermusuhan, tidak peduli terhadap orang lain, dan saling menyakiti. Kita harus belajar untuk saling mengisi dan saling mendukung. Kita harus belajar menciptakan sinergi dengan sesama dan bukan saling meniadakan dan acuh terhadap kemanusiaan.

Dalam upaya melawan virus corona, sebaiknya prinsip kebersamaan, kepedulian, dan kasih sayang terhadap yang lain, perlu kita kedepankan. Menerapkan prinsip asah, asih, dan asuh dalam masyarakat bisa menjadi salah satu solusi mewujudkan masyarakat yang solider di tengah krisis yang sedang terjadi. Peristiwa ini bisa menjadi momentum untuk kita belajar hidup bersama. Dengan sikap saling menguatkan, saling menghargai dan saling peduli satu dengan yang lain serta dengan tidak memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya.

Meskipun pemerintah telah menghimbau kepada masyarakat, bahwa salah satu upaya mencegah penyebaran virus corona adalah dengan melakukan social distancing atau membatasi interaksi dengan orang lain. Bukan berarti kita menjadi tidak peduli dengan orang lain.

Dilain hal, sekiranya pemerintah bisa meredam kepanikan dan ketakutan masyarakat dalam menghadapi penyebaran virus corona tersebut. Karena kepanikan dan ketakutan dapat memancing sikap tidak peduli dengan yang lain. Tidak takut tetapi tetap waspada. Di tengah upaya untuk melawan virus corona, narasi kebersamaan dan kemanusiaan harus terus dilakukan, agar kita lebih peka dan peduli pada yang lain.

Terakhir, penulis menghimbau para pembaca untuk membuka youtube lalu tontonlah salah satu episode (bebas) serial Ronaldowati, kalau beruntung kalian akan menemukan semboyan yang amat dahsyat di sana, selamat menonton dan semoga dapat tercerahkan.

——-

Sebuah catatan dalam upaya menenangkan diri melawan virus corona.

Rumah Ideologi KLASIKA, 19 Maret 2020.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: