Beranda Uncategorized Bincang Kemanusiaan Untuk Perdamaian

Bincang Kemanusiaan Untuk Perdamaian

332
0
BERBAGI

Bandar Lampung. Berlokasi di jalan Sentot Alibasa Gg. Pembangunan E/A5 No. 121 Sukarame. Klasika (Kelompok studi kader) disambangi oleh para pegiat kemanusiaan, diantaranya: Jim Yost, seorang Antropolog asal Amerika yang selama 36 tahun berdomisili di pedalaman papua, pasangan suami istri Daud dan Maria Novitawati pendiri sekolah “Growing Hope” yang konsen pada pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus, ketua NU (Nahdlatul Ulama) kota Bandar Lampung  Ichwan Adji Wibowo, dan pendiri Klasika, Chepry Chaeruman Hutabarat. Pertemuan ini dimaksudkan untuk membincang masa depan Indonesia, terutama generasi muda.

Pada kesempatan kali ini, Jim Yost berkesempatan untuk membagi pengalamannya selama hidup di pedalaman Papua. Bagi Jim, Papua merupakan tempat yang menawan, dengan keragaman suku dan bahasa yang berbeda-beda antar satu suku dengan suku lainnya. Dengan situasi yang baru ini, Jim Yost berhadapan dengan peradaban yang amat primitif, mulai dari makanan, pakaian, hingga perang antar suku. Kedatangan dirinya ke Papua menjadi kesempatan kedua “second chance” bagi Jim dalam menjalani hidup yang lebih berarti bagi orang lain, setelah dirinya jatuh ke dalam kegalauan di masa muda (pengedar narkoba) paska ayahnya meninggal dunia.

Dalam realitas yang amat baru ini, Jim Yost mendedikasikan diri untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian via Generasi Cinta Damai (generation peace). Melalui camp perdamaian, Jim Yost berupaya mengajak para generasi muda untuk mencegah konflik yang terjadi hanya karena perbedaan, bahwa perbedaan adalah karunia, dan orang-orang papua serta para pendatang dapat saling hidup berdampingan. Sebagai komunitas perdamaian, camp perdamaian pertama kali didirikan di Mindanao, Filipina, sebuah daerah yang rawan konflik. Untuk di daerah Indonesia sendiri, pertama kali dihelat di Papua. Program ini telah berjalan selama 13 tahun dan telah dihelat di beberapa daerah di Indonesia sebagai pintu masuk bagi para generasi muda dalam menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan menyelesaikan masalah sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, pesan perdamaian dapat disampaikan lewat kreativitas, semacam hip-hop dan dance.

Salah satu sosok yang menginspirasi Jim Yost dalam menyampaikan pesan-pesan perdamaian adalah Gus Dur. “Gus Dur menginspirasi saya, dimana tempat yang saya kunjungi, saya selalu sempatkan waktu untuk mencari para GusDurian. Sayang, tidak semua tempat di Indonesia ada GusDurian. Gus Durian harusnya berlipat ganda, karena pikiran Gus Dur amat bagus bagi Indonesia” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh pasangan suami istri Daud dan Maria Novitawati pendiri sekolah “Growing Hope” yang konsen pada pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Berangkat dari data yang dimiliki oleh kementerian pendidikan, bahwa terdapat 2500 anak di provinsi Lampung yang mengalami keterbelakangan mental mendorong pasangan suami istri ini untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak tersebut. Sebagai tempat untuk mendidik dan memberikan wadah bagi mereka beraktivitas.

“Semua anak adalah karunia yang diberikan oleh Tuhan, tidak ada anak yang layak dicap sebagai ‘produk gagal’. Anak-anak berkebutuhan khusus sebenarnya sama dengan anak-anak pada umumnya, mereka mampu merasa dan berpikir,  meskipun tidak dengan kata-kata tetapi lewat sorot mata, ini menunjukan bahwa mereka pun manusia, sama seperti kita” paparnya. Ia pun menambahkan, bahwa salah satu masalah yang dihadapi oleh anak-anak berkebutuhan khusus adalah lapangan pekerjaan, kehidupan sosial, dan orang tua yang enggan menyekolahkan anaknya karena memandang mereka sebagai “aib” tambahnya.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama 2 jam ini, Klasika, Jim Yost (peace generation), dan sekolah Growing Hope mencapai kesepahaman, bahwa pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Pertemuan ini  menjadi jembatan, untuk saling bersinergi dalam membangun Indonesia yang damai, terutama bagi generasi muda. Kedepannya, Klasika, Jim Yost (peace generation), dan Growing Hope akan menghelat program bersama, seperti camp perdamaian dan sekolah kemanusiaan lintas suku dan agama, sebagai wujud kesepahaman bahwa pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah masyarakat Indonesia yang heterogen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here