Beranda Ruang Cerpen Berkunjung ke Rumah Nenek

Berkunjung ke Rumah Nenek

Ari Pahala Hutabarat

335
0
BERBAGI
Kau boleh berbagi cerita, tapi jangan paksa pejalan lain untuk percaya dan meyakini ceritamu. Kau boleh menganggap ‘keadaanmu’ sebagai kebenaran, faktual, tapi sesungguhnya kebenaran ‘keadaan’ itu ‘benar untuk dirimu’, belum tentu untuk orang lain

Syekh Mukhlisin berujar padaku tentang adab berkunjung ke Rumah Nenek:

“Ada ‘keadaan-keadaan’ di mana kamu melihat pemandangan alam dll yang kau lalui selama menempuh perjalanan. Juga ada ‘stasiun-stasiun’ atau ‘terminal-terminal’ di mana kau berhenti lalu menetap di desa sekitarnya atau justru kau melanjutkan perjalanan untuk kemudian tiba pada ‘stasiun’ berikutnya.

kekeliruan lah jika kemudian kau terpukau dan menganggap bahwa pemandangan-pemandangan alam atau ‘keadaan-keadaan’ yang kau lihat dan rasakan selama perjalanan sebagai sesuatu yang menetap, kekal, selayaknya sifat ‘stasiun-stasiun’. Yang lebih lucu lagi adalah jika kau kemudian bertengkar dengan sesama pejalan tentang kehebatan masing-masing ‘keadaan pemandangan alam’. Karena bisa saja sesama pejalan mendapatkan, merasakan, dan mempersepsikan ‘keadaan alam’ yang berbeda dalam penglihatannya.

Rute perjalanan yang berbeda, jenis kendaraan yang berbeda, waktu perjalanan yang berbeda, mood dan level pengetahuan pejalan yang berbeda, dll, akan mempengaruhi ‘apa keadaan pemandangan alam’ yang ia lihat juga perasaannya terhadap ‘keadaan’ tersebut–meskipun ‘stasiun’ yang ditujunya sama.

Jadi, selama dalam perjalanan, nikmatilah ‘pemandangan alam’ yang kita lihat, hayati betul-betul, catat dengan benar, tapi simpanlah untuk diri sendiri. Jangan buru-buru kau kabarkan ‘keadaanmu’ kepada orang lain, apalagi kemudian kau paksa orang lain untuk percaya dan mengalami ‘keadaan’-mu.

Kau boleh berbagi cerita, tapi jangan paksa pejalan lain untuk percaya dan meyakini ceritamu. Kau boleh menganggap ‘keadaanmu’ sebagai kebenaran, faktual, tapi sesungguhnya kebenaran ‘keadaan’ itu ‘benar untuk dirimu’, belum tentu untuk orang lain. Kebenaran dan kebaikan dalam ‘keadaan’ selalu bersifat parsial dan sementara. Jika kendaraanmu terus melaju, maka kau akan melihat lagi kebenaran2 pada ‘keadaan2’ yang baru. Saat kau ‘mengekalkan dan menguniversalkan’ kebenaran ‘keadaan-mu’ pada pejalan lain–itu lah tanda bahwa kau mulai tertipu.

Hormati pejalan lain yang mungkin mengalami ‘keadaan alam’ yang berbeda. Lalu, jangan keblinger menganggap ‘pemandangan’ tersebut sebagai ‘stasiun’ di Desa Nenek. Sebab kalau kamu memang sudah sampai ke Rumah Nenek, maka kamu gak akan bingung lagi, gak lompat dan ganti rute serta kendaraan lagi, gak kesulitan lagi mengidentifikasi siapa dirimu, apa bakat dan peranmu.

“Di Rumah Nenek kamu akan produktif; memberi makan lele, nanem cabe, memperbaiki pagar, ngasah akik, nyebur dan berenang di kali dan tentu saja–menikmati makan siang atau malam lezat khas kampung yang dibuat Nenek.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here