Beranda Ruang Bemil dan Keutamaan Sapi Potong

Bemil dan Keutamaan Sapi Potong

176
0
BERBAGI

Peternakan Westland memiliki banyak sapi, semua sapi disana gemuk dan sehat. Di antara sapi-sapi tersebut terdapat seekor sapi muda bernama Beni, umurnya 3,5 tahun. Seperti biasa, sesuai prosedur peternakan, pada pagi hari Beni dan sapi-sapi lainnya digiring menuju padang rumput yang luas, mereka berlarian, lalu makan hingga kenyang.

Pada siang hari, Beni kembali menuju kandang, dia dimandikan dan disikat lembut oleh para pekerja yang ada di peternakan. Prosedur tersebut dijalani Beni dengan teratur, sehingga tak heran, jika Beni menjadi sapi unggulan yang berbobot dan sehat.

Suatu hari, setelah Beni kenyang dan dimandikan. Beni dan beberapa kawanannya berbaris rapih, menunggu giliran untuk disembelih. Beni tidak berontak menjalani itu, karena seperti itulah kehidupan sapi. Dirawat untuk disembelih.

Hal itu tak ubahnya seperti kebanyakan mahasiswa sekarang. Mereka berlomba-lomba untuk mencari nilai tinggi, lulus dengan cepat dan diterima kerja di sebuah perusahaan. Mereka menganggap tujuan kuliah hanyalah untuk bekerja.

Bemil adalah salah satu contoh dari sekian banyak mahasiswa seperti itu. Ia mengartikan kuliah sebagai jalan emas untuk mendapat pekerjaan, bersusah payah ia menjalani kegiatan yang prosedural untuk mendapatkan ijazah, namun tak menghiraukan esensi dari kuliah yaitu ‘belajar’.

Ia menjalani perkuliahannya selama 4 tahun dengan sangat normatif dan membosankan. Bemil berangkat kuliah hanya untuk mengisi absen, mengumpul tugas dan sesekali membacakan makalah di depan kelas (presentasi). Kebiasaan itu terus ia lakukan hingga lulus dengan predikat cum laude.

Pasca Bemil lulus, ia  menjajakan ijazah S1-nya kepada perusahan-perusahan yang sedang membutuhkan tenaga kerja. Dengan modal Ijazah ber-IPK tinggi akhirnya Bemil diterima di sebuah perusahaan jasa sebagai manajer keuangan.

Jadwal kerja Bemil cukup padat, ia bekerja pagi sampai sore selama seminggu kecuali hari Minggu. Ketika pulang pun terkadang ia  masih disibukan dengan tugas kantor yang belum selesai.

Namun, karena kedisiplinan dan ketekunannya, perusahaan memberikan kenaikan jabatan dan gaji, di ikuti dengan ‘tugas’ yang semakin menumpuk. Namun hal ini tak mehilangkan semangat kerjanya.

Bemil semakin disibukan dengan pekerjaannya. Tak ada hari libur, hari Minggu pun ia gunakan untuk menyelesaikan tugas yang tak tuntas di kantor. Tak ada waktu lagi untuk beristirahat, apalagi berkumpul bersama keluarga dan teman.

rutinitasnya yang padat membuat Bemil jatuh sakit, namun karena tuntutan pekerjaan, ia memaksa tubuhnya untuk tetap bekerja. Sakitnya pun bertambah parah dan mengharuskan ia dirawat di rumah sakit.

Pekerjaan Bemil di kantor terabaikan, sudah satu minggu ia tak bekerja. Perusahaan mulai mengalami kerugian.

Akhirnya perusahaan tak mau mengambil resiko. Bemil diberhentikan karena sudah sebulan tak juga sembuh dan posisinya di gantikan orang lain.

Hal ini persis seperti Beni, seekor sapi terbaik yang akhirnya disembelih untuk keuntungan si Peternak. sapi terawat karena akan diambil dagingnya, sarjana cerdas dan pintar hanya untuk diambil tenaganya.

Diatas ranjang rumah sakit, Bemil merenungi kembali perjalanan hidupnya. Berkuliah ternyata hanya untuk memperkaya orang lain, berakhir menjadi pelayan dengan bekerja seperti robot.

Tak pernah berhenti dan tak ada jeda. Dalam benaknya ia bertanya, “apa sebenarnya yang telah aku lakukan selama ini? Ternyata aku hanya menuruti kemauan mereka”.

Bemil pun teringat masa kecil dulu. Kakeknya sering mengajak Bemil ke sawah pagi-pagi sekali, dengan kerbau hitamnya kakek membajak sawah, kemudian menanam benih padi.

Kemudian Hal yang paling menyenangkan adalah ketika panen tiba, anak-anak kampung berkumpul untuk membantu panen di sawah. Mereka senang dan gembira. Ingin rasanya Bemil kembali ke kampung, menjadi petani seperti yang dilakukan kakeknya dulu.

Tetapi, seluruh sawah telah dijual untuk biaya kuliah !

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here