Beda Habieb Rizieq dengan Kardinal George Spell

Ada rumor, dalam waktu dekat  Habieb Riziek akan segera pulang ke Indonesia. Para pendukung beliau mulai menyiapkan ‘sajen’ guna menyambutnya bak Pahlawan.

Bukan hanya Indonesia saja yang memiliki kasus skandal seksual yang melibatkan tokoh agama, negara Australia pun sudah beberapa kali bahkan bisa dibilang sudah memiliki banyak sekali kasus skandal seksual yang melibatkan tokoh agama.

Baru-baru ini kardinal George Spell yang merupakan tokoh katolik paling terkenal Australia dan merupakan  kepala keuangan vatikan terkena kasus skandal seksual yang mengakibatkan dirinya harus menjadi pesakitan.

Kasus skandal seksual yang sebenarnya sudah lama ini diangkat kembali oleh polisi Australia wilayah Melbourne pasca adanya korban lainnya yang melaporkan dirinya dan didukung juga dengan adanya desakan dari komisi pemberantasan kejahatan seksual australia untuk menyelesaikan kasus skandal seksual tersebut.

Tanggapan publik Australia sendiri khususnya dari kalangan penganut katolik sebagai agama mayoritas terpecah menjadi tiga kubu pro, kontra, dan ada pula yang menanggapinya dengan netral.

Tidak seperti indonesia dimana kubu pro seringkali melancarkan pembelaaan dengan cara menebarkan hoax , menciptakan statement yang sara, dan bahkan membentuk citra seolah –olah menjadi korban dari kekejaman rezim pemerintah saat ini ,

Ada yang menarik dari publik Australia yang pro terhadap Kardinal George Spell  mereka cenderung bersikap sangat dewasa dan tidak menjadikan sentimen agama sebagai basis pembelaan.

Aturan tegas diberikan dari kelompok yang pro untuk tidak menimbulkan sentimen negatif di tengah-tengah masyarakat yang dapat mengganggu stabilitas keamanan nasional bagi kelompok pro George pell dukungan haruslah berbasis pada rasionalitas tanpa mengobarkan persatuan dan kesatuan masyarakat Australia yang beragam.

Sikap kelompok pro George Pell memang tidak lepas dari contoh baik yang diberikan oleh Kardinal George Pell yang  langsung pulang ke Australia dari Vatikan segera setelah pengumuman dirinya sebagai  tersangka oleh kepolisian kota Victoria, negara bagian Melbourne.

Alih-alih menunggu pemanggilan paksa dari kepolisian  australia, George Pell justru memberikan konfirmasi kepulangannya dengan segera kepada pihak keuskupan Katolik Sydney dan kepolisian Australia.

Ia bahkan melakukan konferensi pers dengan segera setelah kepulangannya untuk  menanggapi tuduhan terhadap dirinya tanpa menyalahkan pihak manapun.

Dikutip dari kantor berita the guardian pada 29 juni 2017, melalui keuskupan Katolik Sydney George pell menyampaikan “bahwa dia menanti-nanti hari di pengadilan dan akan menjawab setiap dakwaan yang dituduhkan padanya”

Karena sikapnya yang kooperatif ini, kelompok pro George Pell menjadi lebih dewasa ketika memberikan dukungan , tidak menjadi kaum sumbu pendek yang mengobarkan api perpecahan ditengah masyarakat .

Sementara bagi kelompok yang kontra, kasus George pell menjadi sebuah awal baru bagi reformasi hukum yang terkait dengan kasus skandal seksual yang melibatkan tokoh Agama.

Seperti halnya kelompok pro, bagi kelompok yang kontra segala bentuk kritik terhadap kasus tersebut juga harus berbasis pada rasionalitas, kelompok kontra memberikan aturan tegas untuk tidak menyerang Agama karena dalam kasus ini agama Katolik sama sekali tidak ada kaitannya dengan skandal seksual Kardinal George pell.

Tanggapan dari pihak pro dan kontra yang sama-sama rasional ini menjadikan kasus George pell tidak merembet ke isu Suku, Ras, dan Agama dan tidak dapat dimanfaatkan oleh kelompok politik tertentu diaustralia untuk menyerang pemerintahan yang sah.

Media sebagai alat utama pemantauan kasus George pell pun berhasil membendung segala macam tanggapan negatif dari publik dengan cara membentuk opini jika kasus George pell ini masih abu-abu dan segala keputusannya akan ditentukan oleh pengadilan dan otoritas terkait sebagai sumber kebenaran mutlak bukan berasal dari gosip ataupun isu-isu miring lainnya.

Membandingkan skandal seksual George pell dan tanggapan publik tentangnya dengan kasus yang sama di Indonesia bagaikan membandingkan bumi dengan langit, kita tentunya harus mengakui dalam hal kedewasaan dalam hal  membela kita kalah telak dari masyarakat Australia .

Masyarakat kita cenderung membela tokoh mereka yang terkena skandal seksual dengan nalar yang irrasional dengan cara menyebarkan hoax, menimbulkan sentimen dimana-mana, menolak diskusi terbuka, dan yang terakhir membentuk opini seolah-olah kasus ini direkayasa sehingga dalam hal ini skandal seksual tersebut berhasil menjadi sebuah komoditas politik.

Sikap masyarakat tersebut tidak lepas dari sikap yang ditunjukkan oleh tokoh yang terkena skandal seksual yang cenderung pengecut memilih menghindar, sambil lempar kesalahan sana – sini , sehingga secara tidak langsung sudah mendidik masyarakat indonesia untuk menjadi sumbu pendek.

terima kasih.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: