Bahasa dan Kekuasaan

Pagi-pagi sekali Alex sudah menyambangiku. ini peristiwa langka, biasanya sebelum matahari benar-benar terik di tengah kepala, alex tidak akan beranjak dari kamarnya.

“gw protes. gw gak terimaaa” Ucap alex

dengan nada tinggi agak fals seperti saat dia nekat menyanyikan lagu she’s gone kesayangannya selama ini.

“Ngapo lex?” Timpalku agak malas, karena memang tampang beliau belum layak untuk keluar bertemu manusia pagi ini.

“Ngapo kau teriak-teriak tak jelas ?” “apa Mentri aneh kesayanganmu, yang seenak jidat dia nyuruh pelajar untuk sekolah dari pagi sampai sore itu, sudah mulai gak Pede dengan terobosan yang dianggapnya briliyan itu ?”

“Bukan”

“Lalu ?”

“gw gak terima. kenapa orang-orang itu seenaknya saja mengatai kami kiri dan komunis, cuma gegara kami melakukan kritik atas apa yang menjadi kebijakan mereka ! memangnya dunia sudah gak boleh lagi apa protes jim ?” Tanya alex berapi-api sampai rokok samsu yang sedang di hisapnya itu mulai ‘belunjuran’ tabur tembakaunya.

“yah bolehlah” Sambutku enteng.

“lha terus, kenapa kami seperti dianggap penjahat Jim, ketika unras kami di angkut, lembaga kami dibekukan. sekarang malah sekretariat kami mulai dihancurkan ! dan orang-orang seperti mengamini kelakuan mereka” Ucapnya protes .

“jangan-jangan mereka juga membenarkan stigma miring terhadap kami selama ini” Lanjutnya.

“Nah.. inilah kau ni lex. kau terlalu naif kawan. bukankah memang sudah begitu adanya. kau lupa rupanya lex, dengan diskusi-diskusi santai kita dulu. tentang bagaimana hubungan antara kekuasaan dan bahasa. bahasa penguasa adalah bahasa kebenaran lex ” ujarku

“Bahasa sering menjadi aparatus hegemoni dari sebuah sistem kekuasaan. ada 2 cara bagaimana bahasa telah menjadi alat legitimasi kekuasaan Lex. Pertama, ketika ia tidak memberi ruang hidup bagi bahasa-bahasa lain—yang bersifat plural—karena dianggap sebagai ancaman. Kedua, ketika ia digunakan untuk menyampaikan informasi—atau versi informasi—yang sesuai dengan kepentingan kekuasaan” Sambungku.

“jadi ketika kau dan kawan-kawan memilih untuk melakukan perlawanan atas sebuah sistem Lex, pada akhirnya kau tak usah merengek-rengek meminta iba dan dukungan dari berbagai pihak. apalagi sampai protes kenapa mereka begini, kenapa mereka begitu. anggap saja mereka sedang tidur panjang, jadi agak susah dibangunkan” lanjutku

“jadi.. ga usah protes-protes lagi aja apa sekarang ini kita ?” tanyanya kesal mendengar penjelasanku.

“Nahhh !!! inilah kau ini. kau boleh protes, kau boleh teriak. tapi kau tidak boleh cengeng. itu syaratnya !” Jawabku pasti.

“ahhh salah tempat cerita pagi ini gw” ucap alex kesal sambil nyelonong pergi tak pamit. tetap dengan sebatang dji sam soe yang sebenernya sudah tak layak lagi di hisap.

-Sukarame, 2016

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: