Bacalah (bukan) Melamunlah

Surat Al-alaq menurut sebagian ulama adalah wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW di gua hiro. “Iqraa” ( bacalah) begitulah bunyi wahyu Allah yang disampaikan oleh Jibril. “Maa aqraa” ( apa yang harus kubaca) begitulah respon Nabi SAW didalam satu riwayat, dan memang pada riwayat lainnya belum ditemukan objek dari perintah iqra’ tersebut.

Dengan tidak diberikannya objek dalam perintah tersebut berarti apapun yang masih mungkin untuk dibaca, ini menjadi objek dari perintah tersebut.

Sungguh sangat mengherankan mengapa perintah membaca ditujukan kepada Nabi yang ummi ( tidak bisa membaca dan menulis), tetapi tidak mengherankan jika kita mengerti bahwa perintah ini bukan hanya ditujukan kepada Beliau melainkan kepada seluruh umat manusia.

Kata iqra’ berasal dari qara’a yang di dalam berbagai kamus ditemukan pula barbagai macam arti diantaranya ialah membaca, menyampaikan, meneliti, mendalami, menghimpun, menelaah, mengetahui ciri sesuatu dan sebagainya.

Artinya perintah ini tidak hanya mengharuskan kita untuk membaca teks, tetapi juga bisa dengan meneliti, menelaah, mendalami, dan mengetahui ciri sesuatu. Kita bisa menjadikan koran, buku, pohon, binatang bahkan alam ini untuk dijadikan sebagai objek. Tetapi semua itu harus dikaitkan dengan bismi robbika (dengan nama tuhanmu), seperti lanjutan perintah tersebut. Dengan mengkaitkannya dengan nama tuhan kita (Allah) berarti secara tidak langsung kita telah meminta-Nya untuk turut dalam segala aktivitas kita baik yang berhubungan dengan perintah iqra’ maupun aktivitas lainnya.

“Sekali lagi perintah iqra’ disebutkan tetapi kali ini dibarengi dengan wa robbuka al akrom (tuhanmu yang maha pemurah). Disini Allah menjanjikan kepada siapapun yang membaca karena Allah, Ia akan diberikan kemurahan anugerah-Nya berupa pemahaman, pengetahuan, pengertian dan wawasan baru”.

Demikianlah perintah membaca merupakan perintah yang amat berharga bagi umat manusia. Tidak salah jika membaca dijadikan sebagai salah satu kunci keberhasilan seperti peribahasa ”al qiroah miftahun najah”. Semakin tinggi tingkat membaca, semakin besar pula jalan untuk mencapai kesuksesan. Tidak mustahil pada suatu saat nanti membaca akan menjadi suatu kebutuhan penting bagi manusia.

Kini masalahnya, adakah minat membaca pada diri kita? dan kalau ada, tersediakah bahan bacaan yang cocok bagi kita? dan kalau tersedia, cukupkah saku kita untuk membelinya? dan jika cukup, adakah waktu luang kita untuk membaca? Melamunlah.

Tabik.

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: