Beranda Ruang Apakah Gelasmu Sudah Pantas Diisi ?

Apakah Gelasmu Sudah Pantas Diisi ?

Ari Pahala Hutabarat

168
0
BERBAGI

Hukum nomer satu untuk mendapatkan adalah melepaskan. kalau kau bisa melepaskan ketegangan otot-otot mu, melepaskan ketegangan emosional dan pikiranmu–barulah kau akan bisa bernyanyi dan menari dengan asyik.

Di hadapan kami semua, dengan lagaknya yang sok sufi tapi gak kena itu, sambil sesekali nyeruput tuak dan menghisap rokok kreteknya, Syekh Mukhlisin berujar, “kalian semua ini keblinger! kemana-mana teriak dan merayu minta air, tapi gelasmu sendiri penuh. memohon-mohon agar dikarunia cahaya, tapi pintu dan jendelamu tertutup. Kalian berkehendak untuk turut serta menyanyi dan menari bersama kehidupan, tapi otot2mu tegang, pikiran dan emosimu gak fleksibel. Siapa dan cahaya mana yg akan menghampirimu kalau tingkahmu saja gak wajar, sok paham, sok sip dan sok serius.”

Kami meneguk tuak dan menghisap rokok kami masing-masing.

“Hukum nomer satu untuk mendapatkan adalah melepaskan. kalau kau bisa melepaskan ketegangan otot-otot mu, melepaskan ketegangan emosional dan pikiranmu–barulah kau akan bisa bernyanyi dan menari dengan asyik. Kalau kau bisa membuang air yang butek di gelas mu itu–barulah akan hadir seseorang yang akan mengisi gelasmu dengan air yang baru, yang segar. Ini hukum polaritas, hukum dialektik, kau akan leluasa menarik nafas kalau kau bersedia menghembuskan nafas, demikian pula sebaliknya. Jangan cuma maunya narik nafas terus, tapi kagak mau ngeluar-ngeluarin nafas, itu konyol bin songong namanya.”

Kami meneguk tuak dan menghisap rokok kretek Syekh Mukhlisin.

“Jadi Pertanyaannya adalah: apakah gelasmu sudah pantas diisi? Apakah cahaya sudah sewajarnya menghampiri? Apakah kau sudah rela dan bersedia bernyanyi dan menari? Apakah engkau sudah tampan dan cantik untuk dipacari rejeki? Apakah kau sudah layak untuk dicintai?”

Kembali kami meneguk tuak dan menghisap rokok kretek Syekh Mukhlisn.

“Lho, kok kalian terus-terusan minum jatah ane dan ngisepin rokok ane?! modal dong! mau dapet ilmu kok gak modal!’

“Hukum nomor satu untuk mendapatkan adalah melepaskan, Syekh,” ujar kami kompak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here