Beranda Ide Aksi Teror di Selandia Baru: Apa Penyebabnya?

Aksi Teror di Selandia Baru: Apa Penyebabnya?

558
0
BERBAGI
foto Brenton Tarrant pelaku teror sumber: Tribunnews

Hari ini kita semua dikagetkan oleh peristiwa keji seorang pria yang memberondong para jamaah di sebuah masjid Selandia Baru. Kejadiaan ini terjadi sesaat para jamaah akan melaksanakan ibadah salat jumat. Dengan menenteng senjata laras panjang, pria yang diketahui bernama Brenton Tarrant ini tanpa ampun menembaki siapa saja yang ada di dalam masjid. Tanpa merasa bersalah, ia pun menyiarkan aksi brutalnya ini secara live di akun media sosial miliknya. Sedikitnya 40 orang tewas (setidaknya sampai tulisan ini dibuat)  dalam kejadian ini.

Mengapa peristiwa keji ini dapat terjadi? Salah satu jawabannya adalah fanatisme. Mulanya fanatisme adalah kerangka epistemis di kepala (cara berpkir) kemudian berubah menjadi sebuah sikap. Pada tahap inilah fanatisme dapat kita kenali. Seorang yang fanatik, menjelma menjadi sosok yang merasa dirinya paling benar dan merasa berhak untuk menjadi hakim bagi orang lain (F. Budi Hardiman: 2018 dalam Prosiding Simposium Nasional VI: Membongkar Rezim Fanatisme.

Kecenderungan ini dapat timbul di diri setiap manusia. Saya, sesaat mendengar peristiwa buruk ini terjadi pun demikian. Tanpa saya sadari mucul sebuah pemahaman, bahwa tindakan teror yang selama ini di tujukan pada kaum muslim tidaklah sepenuhnya tepat. Ternyata orang eropa yang selama ini menjustifikasi kaum muslim sebagai penebar teror pun melakukuan hal yang sama kejinya. Dan saya menganggap bahwa ketidakberimbangan pemberitaan media turut serta mengarahkan saya untuk menghakimi pelaku, kelompok sosial dimana pelaku tinggal, daln bahkan keyakinan agama yang dianut oleh pelaku.

Ringkasnya, saya menghakimi yang lain dengan berebut klaim bahwa pihak A sebagai pelaku teror sebenarnya dan pihak B bukanlah pelaku teror. Kecenderungan ini tidaklah terjadi pada saya saja, berbagai postingan yang senada dengan pemahaman saya ramai di media sosial semacam Facebook.

salah seorang warga net mengekspreskikan kegeramannya di akun media sosial facebook

Salah seorang warga net bernama Ade Dermawan mem-posting sebuah foto bertuliskan “Anda bilang dia ‘Gunman’ bagi kami dia adalah the real terorist laknatullah”. Ini menunjukan bahwa kita semua sangat rentan menjadi fanatik terhadp apa-apa yang selama ini kita yakini sebagai kebenaran.

Dalam pandangan Franz Budi Hardiman, bahwa cara berpikir di atas adalah kecenderungan setiap manusia untuk mengingkari kebersalahan. Pikiran manusia berambisi untuk meraih pengetahuan yang lengkap, sempurna dan selesai, sebagaimana yang dimiliki oleh Tuhan. Oleh karena itu, setiap orang yang fanatik mengklaim memilliki kebenaran final yang tak terbantahkan. Dan bersamaan dengan itu seorang yang fanatik berhenti mencari kebenaran lain, diluar yang diyakini oleh dirinya.

Sejalan dengan itu, seorang yang fanatik mulai beranggapan bahwa orang lain yang tidak seperti dirinya adalah sesat. Kepongahan seperti inilah yang disebut oleh Franz Budi Hardiman sebagai fanatisme. Fanatisme dapat  berasal  dari keyakinan bahwa ras yang mengalir di darahnya adalah yang paling unggul dan  agama yang dianutnya adalah yang paling benar. Sedikitnya, inilah cara berpikir Brenton Tarrant yang mengarahkan dirinya untuk melakukan aksi penembakan.

Sebagaimana yang telah saya ungkap di atas, fanatisme mulanya adalah cara berpikir kemudian berubah menjadi sebuah tindakan untuk memaksa orang lain mempercayai apa yang ia yakini sebagai kebenaran, jika menolak tak segan mereka menggunakan cara-cara kekerasan. Disinilah kengerian fanatisme. Fanatisme dapat menjangkiti siapa saja dan dimana saja: kulit putih, hitam, sawo matang dan lain-lain. Beragama ataupun tidak. Di negara maju maupun berkembang. Peristiwa teror yang terjadi di Selandia Baru adalah salah satu contoh kengerian yang diakibatkan oleh fanatisme (lihat manifesto yang di tulis pelaku: Brenton Tarrant sebelum melakukan aksi brutalnya). Semoga  para korban diberikan kemuliaan oleh Sang Khalik dan kita semua dijauhkan dari kengerian ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here