Beranda Ruang Cerpen Syekh Mukhlisin: Antara Moral, Celana Dalam dan Bungkus Supermie

Syekh Mukhlisin: Antara Moral, Celana Dalam dan Bungkus Supermie

Ari Pahala Hutabarat

179
1
BERBAGI

Sudah hampir 3 minggu ini, minimal 5 jam sehari, Syekh mukhlisin menutup kepalanya dengan kantong kresek dan menangis tersedu-sedu. Waktu ditanya Mat Frengki apa sebab ia lakukan itu, ia menjawab, “aku malu….aku malu pada kelakuan para dosen dan Sang Rektor yang kerap berkoar-koar soal pendidikan karakter, etika, atau moral tapi kelakuannya sendiri berada pada maqom perkembangan moral, berdasar penelitian Kohlberg, fase Prakonvensional–yg biasanya ada pada anak usia 3 – 10 tahun.”

“Maksudnya, Syekh?”

“Ya, kelakuan dosen2 dan Rektor yang memberangus kebebasan berpendapat mahasiswa dan membekukan organisasi di mana mereka bernaung adalah cermin dari motivasi dan penilaian moral mereka baru pada fase “Orientasi hukuman dan Kepatuhan”–yang membuat mahasiswa mendasarkan perbuatannya atas otoritas kongkrit (orang tua atau guru) dan atas hukuman yang akan menyusul bila mereka tidak patuh. Kelakuan Sang Rektor juga membuat para mahasiswa, hampir seluruh mahasiswa, mempunyai perspektif yang semata-mata egosentris, individu yang membatasi diri pada kepentingannya sendiri dan belum memandang kepentingan komunitas, grup, bangsa, apalagi kemanusiaan universal. Jadi, kata lainnya, Sang Rektor sukses membuat institusinya jadi wadah yang mengubah para mahasiswanya menjadi seperti anak-anak kembali, mahasiswa yang punya level moral balita.”

“Tapi, para dosen dan Rektor tersebut kan pinter-pinter, Syekh, minimal doktor, bahkan profesor?”

“Ya. Level Kognisinya tinggi, tapi level moralnya sangat rendah. Tak otomatis orang yang pinter secara kognitif sekaligus jadi bermoral tinggi. Seharusnya mereka semua sudah berada pada maqom atau tahap moral yang PascaKonvensional–yaitu individu-individu yang sudah berpegang pada hati nurani pribadi, yang berpegang pada persetujuan demokratis, kontrak sosial, dan konsensus bebas, tetap menegakkan hukum, tapi siap mengubahnya demi kegunaan sosial. Jadi, tak mungkin lagi individu yang ada pada maqom ini melakukan atau melegalkan pungli, infaq tapi dipaksa meski secara halus-kasar, juga melarang orang beropini dan berargumen, dsb.”

“Yang Anda katakan soal maqom-maqom moral ini ilmiah atau karangan-karangan Anda sendiri, Syekh?”

“Sangat ilmiah.”

“Harusnya mereka, para dosen dan Rektor itu, juga mengenakan kantong kresek untuk menutupi wajah dan kepala mereka–yang adalah lokus bagi otak–kalau sedang mengajar, ya Syekh?” ujar Mat Frengki.

“Bukan. Mereka harus membungkus otak dan kepala mereka dengan sesuatu yang melambangkan syahwat kekuasaan dan syahwat ekonomi.”

“Apa itu?”

“Celana dalam dan bungkus supermie.”

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here