Almamater di Jemuran

Di teras rumah yang berhadapan dengan jemuran tetangga, sore itu aku duduk di kursi bambu sambil mendeguk secangkir kopi yang ku olah sendiri. Di hadapan ku sebuah almamater  berayun mengikuti irama angin tergantung di jemuran itu, layaknya keadaan mahasiswa sekarang.

Membuat ku teringat pada buku ‘Sekali Lagi’ milik Soe Hok Gie yang semalam ku baca. Aku kerap membayangkan jika mahasiwa sekarang gencar melakukan kritik-kritik pada kebijakan dan tingkah laku pemerintah yang tidak memikirkan rakyat seperti dalam buku. Atau paling tidak mereka berani membantah pernyataan dosen yang tidak benar, bahkan hal ini pun sudah jarang.

Buku itu menceritakan betapa heroic-nya mahasiswa kala itu. Aksi massa, gejolak semangat patriotisme, keringat nasionalisme, suara toak, bentrokan demi memperjuangkan hak-hak rakyat tergambar jelas di kepala ku ketika membaca buku itu. Sangat menggugah semangat, ingin rasanya aku mengalaminya.

Soe Hok Gie dalam buku itu mengatakan hanya ada dua pilihan ketika menjadi mahasiswa. Pertama Idealis, yakni mahasiswa yang memilki sikap ideal layaknya mahasiswa sebagai Agent of Control yang memikirkan rakyat dan Negara.

Kedua Apatis, tipe mahasiswa ini cenderung tak mau ambil pusing dan tak peduli dengan keadaan sekitarnya, atau sederhananya ini adalah mahasiswa yang individualistik.

Jika kita lihat realita, sebagian besar mahasiswa sekarang cenderung apatis. Banyak mahasiswa disorientasi terhadap kuliah. Mereka mengartikan kuliah sebagai jalan untuk mendapat pekerjaan bukan lagi untuk menambah isi kepala. Inilah yang akhirnya menyebabkan mereka berlomba untuk cepat lulus dengan nilai tinggi sesuai tuntutan pekerjaan yang mereka inginkan. Akhirnya mereka terjebak dalam kesibukan-kesibukan pribadi.

Maka wajar jika kita melihat kesenjangan sosial terjadi dimana-mana. Pemerintah semaunya mengeluarkan kebijakan seperti RUU MD3 yang baru-baru ini viral. Bahkan ada yang melakukan ‘perselingkuhan’ dengan korporasi yang akhirnya merugikan rakyat seperti yang terjadi di Kendeng, Jawa Tengah.

Sambil memandang almamater di hadapan ku yang mulai tenang karena tak ada angin yang bertiup, aku membayangkan bagaimana jika mahasiswa sekarang punya pemikiran seperti dulu?

Sudah pasti akan terjadi demonstrasi dimana-dimana, pemerintah kalang kabut atau lebih menarik lagi akan terjadi reformasi jilid II.

Tiba-tiba lamunan ku terpecah karena almamater yang ku pandang terbang karena angin yang cukup kencang dan jatuh dibawah jemuran lainnya.

Melihat hal itu timbul pertanyaan baru di kepala ku, atau mungkin ada yang sengaja mengarahkan pola pikir mahasiswa hingga menjadi seperti ini yang membuat mereka ketakutan akan masa depan (pekerjaan)?

Ya, bisa saja hal itu terjadi. Karena perubahan tidak mungkin secara tiba-tiba dengan sendirinya. Layaknya almamater dijemuran itu, berayun kesana kemari sebab angin yang bertiup ke arahnya. Fenomena ini adalah sebuah akibat dari sebab-sebab yang mungkin saja baru ku pikirkan tadi.

Mulai dari sistem pendidikan (kurikulum) bahkan mungkin hingga tenaga pengajar pun (dosen) telah diatur untuk mengarahkan mahasiswa dalam memandang ‘kuliah’. Hingga keadaan mahasiswa sekarang jauh berbeda seperti dalam buku ku yang semalam.

Langit sudah semakin gelap adzan maghrib pun berkumandang, aku beranjak kedalam rumah karena kata-kata orangtua yang selalu terniang di telinga ku hingga sekarang “Kalau sudah masuk waktu maghrib walau pun tidak solat aku harus masuk rumah.”

Tulis sesuatu

%d blogger menyukai ini: