Beranda Galeri Aku Keminter Maka Aku Ada

Aku Keminter Maka Aku Ada

444
2
BERBAGI
Sumber: www.arrisalah.net

Ada sebuah kisah, katakanlah telah terjadi kekerasan seksual terhadap perempuan di sebuah kampus. Awalnya kasus ini senyap, biasa saja, seolah tak ada yang luar biasa dari kasus ini. Tetapi, tak lama kemudian sekelompok anak muda jengah, lalu membicarakan kasus ini kemana-mana dan di mana-mana; alhasil kasus tersebut viral dan menjadi sorotan banyak pihak.

Sampai disini belum ada yang istimewa dari kejadian tersebut, apa istimewanya bersuara menyampaikan kabar bahwa telah terjadi kejahatan kemanusiaan yang menimpa seorang perempuan kepada publik? Tidakkah itu wajar dan bahkan menjadi hal yang ‘wajib’ bagi mereka yang berpikir, sebagaimana yang dianjurkan oleh Kanjeng Rasul, yaitu “Katakanlah yang benar meskipun itu pahit”.

Ya, tidak ada yang istimewa dari kejadian tersebut, sampai akhirnya, tiba-tiba ada beberapa oknum yang  menyalahkan dan mendiskreditkan gerakan yang sudah dilakukan oleh sekelompok anak muda tersebut.

Stigma-stigma miring mulai dilancarkan untuk menggerus gerakan itu, sebagaimana lazimnya penguasa yang “gerah”  lalu melakukan berbagai cara yang “unyu” (baca: Tolol) untuk meredam pembangkangan atas nama rakyat yang berbasis pengetahuan dihadapannya.

“Jangan Keminter” ucap salah satu oknum, sebut saja (D), kepada salah satu kawan juang. Kami tertegun mendengar pernyataan tersebut, dan di saat yang bersamaan-di sisi yang lain justru tertawa, mengapa? karena lagi-lagi sejarah membuktikan bahwa akan selalu ada orang-orang pinter yang “keblinger”.

Karena panik, mereka yang keblinger akhirnya terperosok dan melakukan hal-hal bodoh demi kenyamanannya (baca: Posisinya) tetap stabil. Mereka yang panik—dalam istilah fenomenologi—akan cenderung terjebak pada situasi ketidakberpikiran, yaitu terjadinya kegagalan fungsi nalar, tersesat saat membaca realitas.

Bahasa dan Kekerasan Semiotik

Bahasa adalah cara “mengada” manusia. Lewat bahasa manusia menunjukan keber-ada-an dan ke-siapa-annya pada dunia. Hematnya, siapa dan bagaimana kamu, pada awalnya bisa diidentifikasi lewat caramu menggunakan simbol, atau dengan kata lain saat berinteraksi dengan orang lain via bahasa.

Di samping sebagai sebagai cara mengada, bahasa juga kerap dipakai manusia sebagai alat memanipulasi dan mengintimidasi. Bahasa acapkali menjadi aparatus hegemonik dari sebuah sistem kekuasaan.

Ada 2 cara bagaimana bahasa telah menjadi alat legitimasi kekuasaan. Pertama, ketika ia tidak memberi ruang hidup bagi bahasa-bahasa lain—yang bersifat plural—karena dianggap sebagai ancaman. Kedua, ketika ia digunakan untuk menyampaikan informasi—atau versi informasi—yang sesuai dengan kepentingan kekuasaan.

Saat bahasa telah menjadi aparatus hegemoni inilah terjadi apa yang disebut Yasraf Amir Piliang dengan kekerasan semiotik (Transpolitika: 2005)  yaitu kekerasan pada tingkat tanda, baik ucapan maupun tulisan, yang disampaikan seseorang kepada pihak lain—di  dalamnya secara konotatif tersemat pesan-pesan kekerasan—agar mengikuti secara patuh keinginannya.

Keminter yang Tidak Keblinger

Mengaca dari kasus diatas kita akan menemukan bahwa telah terjadi praktek kekerasan semiotik disana. Alih-alih melakukan argumentasi secara logis, berupa pemaparan fakta-fakta disertai analisis terkait kasus pelecehan seksual tersebut, oknum (D) dimaksud,  justru melakukan praktik sesat pikir atau yang dalam ilmu logika disebut, Argumentum ad Hominem, yaitu saat seseorang keluar dari semesta persoalan sesungguhnya lalu menyerang hal yang pribadi dari lawan bicara.

Mengapa itu bisa terjadi ?

Seperti yang telah diurai di atas, mereka yang panik (Posisi terancam, nama baik terganggu, atau mungkin tiba-tiba menerima perintah dadakan dari atasan) akan cenderung mengalami kegagalan fungsi nalar di dalam dirinya.

Situasi epistemis inilah yang dalam istilah filsafat barat disebut dengan “ketidakberpikiran”, dan dalam filosofi hidup jawa dikenal dengan “Keblinger”. Mereka yang keblinger, akan menghalalkan segala cara demi dan hanya untuk mewujudkan keinginan-nya (baca: Tuan-nya).

Hayoooo… kamu masih di level keminter, atau justru karena “tirakat” menjilatmu sudah cukup lama nan-istiqomah, akhirnya kamu berhasil juga sampai ke maqam keblinger.

ًWallahu a’lam

(cerita dan analisis ini hanyalah fiktif belaka, jika terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, atau contoh kasus, itu mah elo nya aja yang baper hihihhi)

*Penulis adalah pengangguran yang “apalah-apalah”

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here