Beranda Ide Politik Praktis Merusak Nalar Mahasiswa

Politik Praktis Merusak Nalar Mahasiswa

1332
0
BERBAGI
sumber : http://www.linikampus.com

The only knowledge that can truly orient action is knowledge that frees itself from mere human interests and is based in Ideas in other words knowledge that has taken a theoretical attitude.
-Jurgen Habermas-

Partai politik merupakan salah satu ­­media pendidikan politik masyarakat serta menjadi jembatan institusional antara warga negara dan pemerintah. Parpol memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas politik, karena mereka merupakan pelaku utama dalam per-politik-an di suatu negara (demokrasi).

Untuk melaksanakan fungsi dan tugas tersebut, pada zaman orde lama banyak parpol membentuk organisasi-organisasi mahasiswa dan langsung melibatkan mereka dalam kegitan mau pun kontrol politik. karena kampus merupakan basis intelektual. Maka sudah tepatlah mereka melebarkan sayapnya masuk dalam kampus.

Menurut Jurgen Habermas dalam teori kritisnya ia mengatakan bahwa jika ingin menciptakan sebuah perubahan maka harus menyadarkan kaum Intelektual (Mahasiswa). Yang kemudian merekalah yang melakukan penyadaran intelektual pada masyarakat.

Namun pasca runtuhnya orde lama, saat memasuki orde baru mahasiswa mulai di batasi hak politiknya dengan pelarangan terlibat langsung dalam politik praktis dan parpol-parpol tidak diperbolehkan masuk atau melakukan kegiatan politik di kampus.

Lalu bagaimana realitas mahasiswa hari ini?

Kebanyakan mahasiswa hari ini terlalu  disibukan hal-hal yang sifatnya individual. Nilai, ijazah dan gaya hidup tidak lebih untuk kepentingan pribadi mereka. Karena kesibukan tersebut membuat kesadaran sosial Mereka turut larut di dalamnya. Inilah yang menyebabkan mahasiswa mulai kehilangan nalar gerakan dan menjadi pasif paska runtuhnya rezim orde baru.

Untuk memenuhi kebutuhan individualnya itu, tidak sedikit juga mahasiswa bahkan secara ke-lembaga-an turut campur dalam kegiatan politik secara diam-diam dan terjebak dalam pragmatisme politik. Yang seharusnya mereka ikut dalam kegiatan politik sebagai pembelajaran dan-yang mengawasi, bergeser untuk mencari pemenuh kebutuhan. Inilah kenapa alasan rezim orba dulu melakukan pelarangan mahasiswa terlibat dala kegiatan politik, semata-mata untuk menjaga idealisme mahasiswa.

Tak bisa Kita pungkiri bahwa besarnya nama mahasiswa sekarang tidak terlepas dari perannya di masa lalu. Mahasiswalah yang berhasil menggulingkan orde lama karena bung karno kala itu dianggap tidak pro lagi pada rakyat, kemudian berbagai macam pemberotakan hingga runtuhnya orde baru pada tahun 98.

Masalah larutnya mahasiswa dalam pragmatisme politik ini, merupakan dampak masuknya parpol ke dalam kampus secara diam-diam dengan mendatangkan tokoh politik lewat lembaga atau organisasi mahasiswa untuk menarik perhatian mereka. Hal tersebut di ataslah yang membuat mahasiswa disorientasi nilai hidup

Hal ini disebabkan tidak adanya aturan yang jelas tentang pelarangan parpol untuk masuk ke kampus. Hanya Surat Keterangan Dirjendikti Nomor 26 Tahun 2012 tentang organisasi ekstra atau partai politik. Dalam ketentuan tersebut disebutkan larangan untuk melakukan kegiatan politik dan mendirikan sekretariat di dalam kampus.

Namun, larangan tersebut dengan mudah dilanggar dengan dalih pendidikan politik. Celakanya tidak ada penerapan dan sanksi serius terkait hal itu. Untuk menjaga ke-idealis-an mahasiswa harusnya kampus menjadi tempat yang bersih dari kampanye dan politik praktis.

Terlebih sebentar lagi akan digelar pesta demokrasi 5 tahunan dan pilkada serentak di beberapa daerah. Kampus akan menjadi sasaran untuk para calon berkampanye dengan mendatangkan tokoh-tokoh partainya. Bahkan ada beberapa kampus yang dijadikan basis massa oleh para parpol pengusung calon.

Basis massa? Ya, ada mahasiswa secara kelembagaan (BEM) yang telah disusupi oknum parpol melakukan deklarasi mendukung salah satu calon. Karena mahasiswa punya ‘imej’ yang baik di masyarakat maka para oknum parpol berlomba-lomba untuk menarik simpatik mahasiswa. Dengan menjadikan mahasiswa sebagai simbol dukungan maka secara otomatis ekstabilitas calon yang diusung pun akan naik.

Hal-hal tersebutlah yang membuat kesadaran intelektual mereka kini kian tumpul. Padahal mahasiswalah yang memiliki kedudukan strategis dalam persoalan ini. Mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat dan seharusnya memliki pandangan objektif tentang keadaan sosial masyarakat.

Lalu, Jika mahasiswa kini sudah tidak lagi memiliki kesadaraan kritis, lantas siapa yang akan melakukan penyadaran pada masyarakat seperti yang dicita-citakan Habermas?

Jawabannya tidak ada !!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here